Kalau kita menonton film – film yang
dibuat di Hollywood atau bahkan film dari negara manapun, ada sebuah situasi
dan kondisi dimana si aktor atau aktris mengalami hal yang serupa bahkan
mendekati kesamaan meskipun judul dan genre filmnya sama sekali berbeda dan
dibuat pada waktu yang berbeda pula.
Kebanyakan disetiap film Amerika terlebih
yang menceritakan tentang perlawanan antara yang baik dan buruk, hitam dan
putih, maka selalu ada salah satu aktor / aktris yang sudah ditentukan menjadi
pemeran utama dimana dia sekaligus akan menjadi pahlawannya. Bahkan lebih
mengesankannya lagi, sang sutradara sangat pandai mengkondisikan bagaimana
keadaan seorang pahlawan yang tadinya tidak memiliki kemampuan apa – apa,
bahkan oleh orang dianggap sebagai sosok yang lemah dan biasa – biasa saja,
malah dialah yang nantinya akan menjadi pahlawannya.
Ada juga beberapa film dimana alur
ceritanya memuat tentang peristiwa yang mengancam nyawa dari sekelompok orang
tapi yang selamat dan bertahan hidup sampai diakhir cerita justru orang yang
tidak disangka – sangka. Kadang – kadang bisa seorang gadis, seorang wanita
hamil, orang tua, bahkan seorang anak kecil.
Sebagai contoh ada salah satu film
dimana seorang balita yang hendak diculik oleh tiga orang penjahat dimana para
penjahat ini akan menjadikan anak itu sebagai sandera supaya mereka bisa
mendapatkan uang tebusan sebab orang tua si anak adalah orang kaya raya.
Dalam film itu, si anak dengan
segala kelemahan dan kepolosannya, justru dia selalu bisa lolos dan kejaran
para perampok karena sudah direncanakan adanya sebuah situasi dan kondisi
dimana si anak yang selalu akan mendapatkan kesempatan dan keberuntungan
sementara para penjahan mendapatkan kesialan.
Film memang hanyalah sebuah karya
fiksi dan yang namanya fiksi, segala sesuatu bisa terjadi dan dikondisikan
menurut keinginan sutradara karena merupakan bagian dari strategi perfilman karena
mereka sangat tahu “cara menciptakan” sebuah film yang bagus yang bisa menjadi
sebuah karya yang luar biasa.
Namun apa yang menjadi kesamaan yang
dialami para pahlawan di film - film ini?. Kesamaan itu adalah dimana saat seorang
aktor / aktris dinyatakan sebagai pahlawan dalam film itu, mereka mendahuluinya
dengan bertanya dalam dialog perannya : “Why Me?” / “Mengapa Saya?”.
Bahkan kita sebagai penonton, pasti
akan akan menanyakan hal serupa, “Iya ya, mengapa harus dia yang jadi pahlawan?”.
Hal ini bisa terjadi karena memang seperti apa yang diuraikan di atas, kita
sudah melihat calon pahlawannya ini bukan siapa – siapa dan rasanya memang tidak
memiliki kemampuan apa – apa untuk menjadi pahlawan. Alur ceritanya dari awal
memang memberi kesan demikian.
Kesamaan lainnya adalah seseorang
dinyatakan sebagai calon pahlawan biasanya terjadi di sepertiga cerita dari keseluruhan
filmnya. Meskipun hal ini tidaklah menjadi patokan utama. Yang paling
terpenting adalah soal “Mengapa Saya?” itu.
Apa yang terjadi setelah si calon
pahlawan ini bertanya “Mengapa Saya?”. Setelah si aktor / aktris bertanya
demikian, barulah dijelaskan mengapa dia yang harus menjadi pahlawannya. Dibuatlah
semacam situasi dan kondisi yang menceritakan Flash Back sebuah peristiwa atau berupa pengungkapan data dan fakta
sehingga membuat posisi si aktor / aktris menjadi terkondisikan dengan
sendirinya atau memaksa dia menjadi pahlawannya dan tidak bisa digantikan siapapun
selain dia.
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana
dengan film yang diangkat dari kisah nyata? Bukankan hal ini sangat jauh dengan
situasi dan kondisi cerita yang dipenuhi dengan hal – hal fiktif belaka? Untuk film yang diangkat dari kejadian
sebenarnya, maka pertanyaan “Mengapa Saya?” biasanya akan terjawab dengan
sendirinya setelah kita melihat keseluruhan filmnya. Itupun jika si pahlawan
tidak bertanya “Mengapa Saya?”, maka kitalah yang menjadi penonton yang
harusnya bertanya “Mengapa Dia?”
Tapi apa hikmah yang bisa diambil
dari semua penjelasan di atas? Ada sebuah kalimat bijak yang barangkali bisa
dijadikan bahan renungan bagi kita semua :
“Barang Siapa Mengenal Dirinya,
Maka Dia Akan Mengenal Tuhannya”
Kalimat ini barangkali pernah
didengar atau dibaca sebagai Hadits Nabi. Namun sebenarnya kalimat ini setelah
dilakukan pengkajian, tidak ditemukan kepastian bahwa sumbernya berasal dari
Nabi Muhammad SAW. Makanya lebih tepat anggap saja kalimat ini sebagai kata –
kata bijak.
Apakah bisa kalimat ini dijadikan
kata – kata bijak?. Meskipun bisa jadi ada yang tidak sepaham, namun kita bisa menganalisanya
dengan mempertimbangkan apa yang sudah diuraikan di atas mengenai film.
Bagaimana seseorang yang menjadi pahlawan itu ternyata wajib mengetahui siapa
dirinya sebenarnya dan mengapa dia yang harus menjadi pahlawan.
Jika kita hidup di dunia yang penuh
dengan pertempuran antara hitam putih, baik dan buruk, maka salah satu bagian
terpenting bagi kita dalam mempersiapkan diri adalah dengan mengenal siapa kita
sebenarnya.
Kalau kita mau sedikit menganalisa,
coba perhatikan apa yang terjadi di film – film Amerika itu
terhadap calon pahlawannya? Apakah mereka tidak tahu siapa dia? Apakah mereka
adalah orang yang sedang mabuk, hilang ingatan atau sakit jiwa? Jawabannya
TIDAK selalu seperti itu.
Mereka yang jadi pahlawan ini, tidak
selalu orang yang tidak tahu siapa dia. Artinya mereka memang tahu tentang
dirinya. Meski di beberapa film, ada pemerannya yang dibuat seperti hilang
ingatan dan sebagainya, namun ada juga sebaliknya. Mereka tahu seperti apa diri
dan kemampuan yang dimilikinya bahkan mereka sadar tidak pantas menjadi
pahlawan, maka dari situlah yang memberikan alasan sehingga dia harus bertanya
“Mengapa Saya?”.
Mereka bisa berasal dari berbagai profesi,
berbagai tingkat kepandaian dan berbagai jenis kepribadian bahkan umur. Sampai
di sini, kenyataannya yang mengharuskan mereka jadi pahlawan dianggap sebagai
“GIVE” atau anugerah. Spiderman dalam salah satu dialongnya menyebut bahwa “Semakin Besar Anugerah Yang Diterima,
Semakin Besar Tanggung Jawabnya”.
Kaitannya dengan kehidupan manusia,
kalau kita melihat sejarah manusia diciptakan pertama kali, ketika Allah Maha
Pencipta menggunakan Kekuasaan-Nya dan bertindak sebagai “Sang Sutradara” dan
menetapkan manusia sebagai khalifah di muka bumi, para malaikatlah yang mempertanyakan
mengapa Allah harus menciptakan manusia di muka bumi yang bisa menimbulkan
pertumbahan darah.
Diumpamakan dalam dunia perfilman, Malaikat
posisinya sama seperti penonton atau seperti aktor bukan pahlawan. Jika Malaikat
seperti penonton, dia belum melihat bagaimana “Sang Sutradara” menentukan alur
cerita yang akan terjadi dan yang akan dilalui manusia di dunia. Padahal Allah
punya “Cara Menciptakan Film” yang semuanya bersisi kisah nyata dan cerita ini lebih
sempurna dari sutradara manapun. Maka Allah pun lebih tahu alasan mengapa manusia
ditetapkan sebagai Khalifah dan sebagai makhluk terbaik. Sampai akhirnya Allah
cukup memberikan pernyataan bahwa Dia lebih tahu dari apa yang diketahui
malaikat.
Dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30 Allah berfirman :
“Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Bukan hanya malaikat, Iblis pun
demikian. Jika malaikat mempertanyakan keputusan Allah yang akan menciptakan manusia,
maka Iblis mempertanyakan sesuatu setelah manusia diciptakan mengenai apa yang
harus dilakukan Iblis dihadapan manusia. Mengapa Iblis harus sujud kepada
manusia padahal Iblis merasa lebih baik karena diciptakan dari api sedangkan
manusia hanya dari tanah?.
Jika Iblis seperti penonton, dia
juga mempertanyakan “Peran” manusia dilihat dari asal penciptaan manusia. Kerendahan
si aktor dijadikan alasan untuk tidak sujud dihadapannya atau “tidak layak
dijadikan pahlawan”.
QS. Al – Baqarah, 34 : “Dan (ingatlah)
ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu
kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur
dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”
QS.
Al – Hijr, 29 – 32 : “Maka
apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya
ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka
bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. Kecuali iblis. Ia enggan
ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman: "Hai iblis,
apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?".
Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang
Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur
hitam yang diberi bentuk.
Bila
memperhatikan sikap iblis itu, kita bisa saja bertanya, apa yang membuat iblis
jadi sombong? Apakah karena “DIA MENGENAL DIRINYA” makanya dia merasa lebih
baik dari manusia?. Jawabnya BISA JADI DIA MENGENAL DIRINYA. Dia berani
menyatakan “MENGAPA SAYA Harus Sujud Dihadapan Manusia?”. MENGAPA SAYA ini adalah
penegasan bahwa iblis memiliki sesuatu dalam dirinya yang dianggap lebih baik
dari manusia. Apakah hanya karena diciptakan dari API saja? TIDAK JUGA.
Kalau
dianalisa, sebenarnya ada EMPAT CATATAN kenapa Iblis merasa lebih baik dari
manusia kemudian dia “menghinakan” manusia dengan melihat dari apa manusia
diciptakan. Untuk menerangkan hal ini, kita harus melihat seperti apa iblis
sebelum diperintahkan sujud kepada adam.
Dalam sebuah
kitab karangan Imam al-Ghazali dan lebih rinci lagi dalam kitab hadits karangan
Syaikh Taftazani bin Basyumi, namanya kitab "Sholawatul Kabul
Akhbar", menguraikan bahwa kepada Iblis, Allah memerintahkan, memberi
tugas, memberi mandat yang agung sangat mulia, diantaranya sebagai berikut :
1.
Iblis sebagai penjaga surga dalam kurun waktu 40.000 tahun.
2.
Iblis pernah hidup bersama bergabung dengan Malaikat selama 80.000 tahun.
3.
Iblis diangkat menjadi penasehat Malaikat selama 20.000 tahun.
4.
Iblis menjadi pemimpin malaikat karobiyyun dalam waktu 30.000 tahun
5.
Iblis melakukan thowaf (mengelilingi) arasy bersama para malaikat dalam waktu
14.000
Jadi secara keseluruhan iblis beribadah melakukan semua
perintah kepada Allah dalam kurun waktu 185.000 tahun lebih. Selama dalam
ibadahnya seperti melakukan sholat, puasa, thowaf dengan para malaikat ( mengelilingi
baitul makmur di Dan arasy ), iblis tidak merasa lelah dan mengeluh menjalankan
perintah Allah, tugas-tugas Allah yang termulia ini, iblis menjalankan dengan
ikhlas, tidak ada niat apapun kecuali karena Allah semata.
Iblis pun diberi gelar Al A’ziz ( makhluk Allah yang termulia
). Ada yang memberi gelar A’zazil ( panglima besar malaikat ). Oleh karenanya
di langit pertama sampai ketujuh, iblis dihormati para malaikat. Di langit yang
pertama berkibarlah bendera bertulis Al ‘abid ( iblis ahli ibadah ). Langit
ke 2 berkibarlah tulisan Al Zahid ( iblis ahli suci ) tidak melanggar larangan
Allah, dan mematuhi segala perintah Allah. Langit ke 3 berkibarlah tulisan Al
Ar’rif ( yang mengetahui segala kekuasaan kemulyaan Allah ). Langit ke 4
berkibarlah tulisan Al Waliyu ( yang dibebani dan dikasihi Allah ). Langit ke 5
berkibarlah tulisan Attaqiyu ( yang takut / patuh perintah Allah ). Langit ke 6
berkibarlah tulisan Alkazinu ( yang mengawasi makhluk Allah yang bernyawa ). Langit
ke 7 berkibarlah tulisan Azroilu ( yang mencabut nyawa / memberi celaka pada
makhluk lainnya ).
Namun sayang, di lauhul mahfudz, tulisan “IBLIS” terselubung
rapi tidak satupun makhluk yang tahu kecuali Allah, tertera Alkafir Almal’un ( iblis
inkar terkutuk ).
Nah, dengan posisi seperti itu, faktanya Iblis lebih baik
daripada adam. Iblis kenal betul siapa dirinya karena memiliki posisi terbaik
setelah Allah dan di atas malaikat. Dengan posisi seperti itu iblis masih harus
sujud kepada Allah karena Allah Yang Maha Besar, ini adalah sebuah pelajaran
yang bisa diambil Iblis dan dia menggunakan pelajaran itu untuk memperlakukan
adam. Artinya jika yang lebih rendah sujud kepada yang lebih tinggi, maka konsep
itu harus selalu berlaku. Seperti itulah prinsip yang dipegang Iblis.
Sehingga Iblis menolak sujud dengan menyatakan : ". . . aku lebih baik daripadanya.
Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam dari pada tanah."
Tapi mengapa Iblis tahu ibadahnya sudah sangat banyak dan dirinya
memiliki gelar dari langit pertama hingga langit ke tujuh, namun dia
membandingkan dirinya dengan adam hanya melihat dari apa adam diciptakan?
Kenapa iblis tidak menyebut-nyebut ibadahnya saja?
Jawabannya karena Adam baru diciptakan dan belum pernah
melakukan ibadah sebelumnya, maka tidak adil jika faktor ibadah yang dijadikan
bahan perbandingan. Artinya iblis tahu juga keadilan dalam keadaan seperti ini.
Maka, iblis hanya bisa membandikan dari apa penciptaan antara keduanya karena
itu adalah titik awal yang sama – sama sudah dilalui antara keduanya sehingga
tepat untuk dibandingkan. Disinilah catatan
yang pertama.
Karena penolakan iblis ini, diapun termasuk terjerumus pada
kesombongan alias takabbur. Kisah selanjutnya setelah iblis menolak sujud itu,
dia masih tetap berdiri tegak sampai malaikat bersujud. Ketika para malaikat
mengangkat kepala mereka, mereka mendapati iblis masih tidak sujud juga. Malaikat
pun bersujud yang kedua kali karena untuk menunjukan sikap bersyukur kepada
Allah bukan ketundukan kepada manusia, tetapi iblis tetap angkuh dan tidak mau sujud
juga.
Hingga akhirnya Allah memutuskan merubah wujud iblis dari
bentuk asalnya yang sangat indah cemerlangan. Yang tadinya mempunyai sayap
empat, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat, kini menjadi
seperti babi hutan. Allah membentuk kepalanya seperti kepala unta, dadanya
seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada
dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang
permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua
bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan
janggut terdapat sebanyak tujuh helai.
Setelah itu Allah mengusirnya dari surga, bahkan dari langit,
dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan
dengan cara sembunyi. Allah melaknatinya hingga hari kiamat kerana dia menjadi
kafir.
Catatan Kedua
dari sikap iblis ini adalah : Kenapa iblis begitu mengenal dirinya namun apa
yang dikenal itu hanya dibandingkan kepada adam sementara saat itu mereka
sedang berhadapan dengan Allah? Disinilah letak kesalahan Iblis. Seharunya
ketika dia mengenal dirinya, jangan sampai melupakan posisi siapapun yang di
atas atau yang di bawah. Artinya mengenal diri itu harus menjaga keseimbangan. Terlalu
fokus kepada yang di bawah ( kekurangan ), akan jadi
sombong karena lupa siapa yang ada di atas. Terlalu fokus pada yang di atas (
kelebihan ), bisa sombong karena meremehkan yang di bawah. Dengan kata lain,
kesombongan itu, dihadapan siapapun tetap salah.
Meskipun Adam memiliki kekurangan,
mestinya Iblis sadar bahwa sujud dihadapan Adam hanyalah bentuk penghormatan
dimana penghormatan ini bukan diminta oleh Adam. Tentu beda kalau Adam sendiri
yang meminta tanpa pernah Allah yang memerintahkan. Tapi ketika Allah yang
memerintahkan, maka unsur “taat perintah Allah” inilah yang jadi pertimbangan
utama. Sama kasusnya dengan Adam ketika makan buah yang dilarang Allah. Apakah
buah itu mematikan dan beracun. Tidak juga. Tapi unsur taat perintah Allah ini
yang utama.
Jadi perintah sujud kepada Adam ini
termasuk UJIAN bagi Iblis. Bukankah semakin tinggi keimanan maka semakin berat
ujian. Setelah iblis begitu unggul dalam hal sujud kepada Yang Maha Besar, maka
dia diuji bagaimana jika diperintah sujud dan hormat kepada Adam yang lebih
rendah dari segi asal penciptaan.
Catatan
Ketiga : Jika tidak ada sikap iblis seperti ini, maka malaikat tidak akan
pernah tahu bahwa Iblis bisa sombong juga meskipun sudah memiliki derajat
sedemikian tinggi. Hal ini dengan sendirinya membuktikan bahwa Allah memang
lebih tahu apapun yang akan terjadi dengan penciptaan manusia dimana malaikat
tidak tahu dan kesombongan Iblis ini salah satu jawabannya.
Catatan
Keempat : Iblis serta merta menolak sujud kepada Adam meskipun
sudah disebutkan Adam itu adalah KHALIFAH BARU DI MUKA BUMI, karena sebenarnya
Iblis itu adalah MANTAN KHALIFAH DI MUKA BUMI. Sebelum Iblis punya predikat
yang tinggi di langit, dia dulunya pernah gagal jadi khalifah namun kegagalan
itu ditebusnya di langit sehingga kembali memiliki reputasi.
Barangkali
jika mengikuti fakta ini dan kejahilan berpikir, iblis bisa saja menyatakan
“Dulu ketika saya jadi khalifah di muka bumi, kenapa malaikat tidak sujud
dihadapan saya? Kenapa setelah manusia yang jadi khalifah baru malaikat dan
saya juga harus sujud kepada manusia?” Meski pertanyaan ini tidak terlontar
saat itu oleh Iblis, kita sebagai manusia pun bisa saja berpikir demikian meski
itu bagian dari kejahilan berpikir.
Kesimpulan
yang bisa kita tarik terkait adanya reaksi iblis ini adalah : Setelah Iblis
dikutuk beserta semua keturunannya dan diberikan ijin menganggu manusia dan
keturunannya, maka siapa lagi yang bisa menggugat manusia sebagai khalifah di
muka bumi? Artinya, Iblis sudah jadi makhluk terkutuk dan tidak mungkin makhluk
terkutuk jadi khalifah. Malaikat pun
sudah menerima keputusan Allah. Jadi kalau niat menjadikan manusia sebagai
khalifah harus batal, maka makhluk mana lagi yang pantas?
Sampai di sini, apakah hanya dua
makhluk itu yang bereaksi atas penciptaan manusia? Jawabannya TIDAK. Sebab
masih ada makhluk lain yang khawatir dengan penciptaan manusia. Makhluk itu
adalah BUMI.
Dalam
sebuah hadist mu’tabar yang dinukil dari Imam Ja’far al-Shadiq disebutkan
sebelum menciptakan Nabi Adam, terlebih dahulu Allah mengabarkan kepada bumi
bahwa Dia akan mengambil tanah di sana.
“Hai bumi, Aku akan ciptakan
manusia dari saripatimu. Sebagian meraka ada yang taat kepada-Ku dan sebagian
lainnya durhaka kepada-Ku. Siapa yang taat kepada-Ku maka akan Aku masukkan dia
kedalam sorga-Ku, dan siapa yang durhaka kepada-Ku akan Aku masukkan dia
kedalam neraka-Ku”. HR : Imam Ats-Tsa’labi.
Mendengar
ini, bumi mulai cemas dan diliputi kekhawatiran. Namun tetap diutus malaikat
Jibri untuk mengambil tanah di sana. Karena bumi khawatir, bumi menolaknya dan
tidak memperbolehkan malaikat mengambil tanahnya. Sebagaimana diriwayatkan dari
oleh As-Suddi, dari Ibnu Masud, dari seorang sahabat Rasulullah S.A.W, mereka
bercerita :
"Allah S.W.T.
mengutus malaikat Jibrail ke bumi untuk mengambil tanah dari bumi, namun bumi
menolaknya, Bumi pun memelas dan menangis kepada Jibril, Ia bersumpah dengan
nama Allah bahwa Ia tidak sanggup menanggung beban manusia di bumi.
”Demi Allah, aku berlindung kepada-Mu dari utusan-Mu, agar Engkau tidak mengambil sebagian dari kami jika nantinya akan menjadi penghuni neraka”.
”Demi Allah, aku berlindung kepada-Mu dari utusan-Mu, agar Engkau tidak mengambil sebagian dari kami jika nantinya akan menjadi penghuni neraka”.
Mendengar
itu, Jibril tidak kuasa mengambil apapun dari bumi, lalu kembali kepada Allah
dan menceritakan alasan bumi yang bersumpah dengan keagungan Allah bahwa dia
tidak memiliki kesanggupan untuk menanggung azab-Nya.
Allah
lantas mengutus dua malaikat sekaligus yakni Mikail dan Israfil untuk turun ke
bumi mengambil tanah. Lagi-lagi, bumi melakukan hal serupa dengan bersumpah
membawa nama Allah. Kedua malaikat ini pun lalu kembali lagi kepada Allah tanpa
membawa sedikit tanah pun sama seperti Jibril.
Allah
kemudian mengutus malaikat Izrail. Namun, malaikat ini tidak seperti dua
malaikat lainnya. Karena Ia tidak mempedulikan bumi agar tidak mengambil
tanahnya. Ia langsung memukul bumi dengan pedangnya dan bumi pun bergetar
ketakutan, lantas malaikat Izrail mencabutnya segenggam.
Meski
Bumi sudah bersumpah atas nama Allah, namun Ia tetap mengambil tanah seraya
berkata :
“Aku
takut menyalahi ( melanggar ) perintah Allah, aku sama sekali tak akan
melanggar perintah Allahku, walau dengan segala perendahan dirimu”.
Ketika
Izrail mengambil paksa ( mencabut ) sebagian dari bumi, bumipun menangis merasa
kehilangan tanahnya. Namun Allah berfirman bahwa apa yang sudah diambilnya dari
bumi sebenarnya akan dikembalikan ke bumi. Kemudian Allah berfirman :
“Dari bumi ( tanah ) Kami jadikan kamu dan
kepadanya Kami akan kembalikan kamu dan daripadanya Kami akan keluarkan kamu
pada kali yang lain”. ( QS. Thaha : 55 )
Bagaimana
dengan Adam sendiri yang mendapatkan peran dan kedudukan sebagai manusia?
Disinilah inti bahasannya.
Adam
tidak pernah bertanya “MENGAPA SAYA YANG MENJADI KHALIFAH?” dan pertanyaan ini lebih
baik ditanyakan saat itu oleh Adam daripada “Siapa Saya?”
Adam
tidak bertanya “Siapa Saya?” karena dia sudah tahu asal usulnya. Dia dalam
keadaan sadar bahkan diberikan ilmu dan pengetahun tentang dunia sebagai bekal
menjadi khalifah di muka bumi, tapi pertanyaan “Mengapa Saya?” jika dintanyakan
saat itu, tentu pertanyaan malaikat akan terjawab saat itu juga.
“Manusia Diciptakan
Lebih Sempurna Dari Makhluk Lain Sehingga Lebih Tepat Menjadi Khalifah”.
Fakta ini memang masih tersembunyi saat itu. Tapi mengapa ketika malaikat
bertanya, Iblis memprotes dan bumi menangis saat diciptakan manusia lalu Allah tidak
menjawab karena manusia diciptakan lebih sempurna? Dan kenapa bukan itu saja
yang dijawab Allah saat itu? Logikanya bisa didapat. Jika alasan kesempurnaan
itu diukur dalam hal ketaatan, maka Iblis adalah makhluk yang paling taat saat
itu dan malaikat pun sama karena tidak pernah berbuat dosa. Jika kesempurnaan
diukur dari apa diciptakan, maka malaikat lebih baik karena dari cahaya dan
Iblis dari api sementara manusia diciptakan dari tanah. Bagaimana dengan bumi?
Mengapa kesempurnaan manusia tetap membuatnya harus menangis dan menolak? Bukankah
manusia akan berdosa sehingga masuk neraka.
Dalam
ceramah mungkin kita sudah mendengar bahwa manusia dianggap sempurna karena
memiliki kehendak dan kebebasan memilih. Manusia bisa taat atau membangkang
kepada Allah. Sifat ini lebih dinamis dibanding malaikat. Jika manusia bisa
mengingkari Tuhan tapi memilih untuk taat, maka manusia lebih baik karena ketaatan
malaikat itu sifatnya statis. Tapi bagaimana jika dibandingkan dengan Iblis? Apakah
Iblis sudah diciptakan sejak awal sebagai makhluk yang membangkang? TERNYATA
TIDAK. Iblis pernah taat hingga ratusan ribu tahun. Iblislah yang paling
jawaranya dalam hal ketaatan waktu itu. Bahkan Allah berfirman :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku” ( QS. 51 : 56 )
Dari ayat di atas, posisi jin dan manusia sama
saja. Bahkan dalam ayat lain, jin dan manusia juga sama – sama masuk neraka
jika berdosa. Sebagaimana firman Allah :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk ( isi neraka
Jahannam ) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami ( ayat-ayat Allah )
dan mereka mempunyai mata ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk melihat ( tanda
- tanda kekuasaan Allah ), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar ( ayat - ayat Allah ). Mereka itu sebagai
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang
lalai” (
QS. 7 : 179 ).
Manusia
dan Jin sama – sama memiliki hati dan pendengaran. Sama – sama punya mata untuk
melihat tanda kekuasaan Allah. Bahkan Iblis dan Adam itu sama – sama makhluk
yang turun dari langit karena melakukan kesalahan.
Kalau
kita melihat sejarah, apakah hanya Iblis saja yang dirubah bentuk fisiknya
ketika mereka membangkang kepada Allah. Ternyata TIDAK. Manusia pun sama. Ada
sekelompok manusia yang dikutuk oleh Allah menjadi binatang seperti monyet. Dan
sudah banyak umat – umat terdahulu bahkan dimusnahkan oleh Allah karena kelakukannya.
Sementara Iblis meskipun tinggkat kesombongannya paling tinggi, dia malah
diberikan usia sampai hari kiamat. Dia bahkan diberikan ijin untuk menggoda
manusia. Manusia mana yang diberikan ijin oleh Allah untuk menggoda manusia
lain sementara kita diperintahkan mengajak dalam kebaikan. Perhatikan Nabi Adam
ketika melakukan kesalahan di dalam surga. Dia diturunkan ke dunia. Sama
seperti Iblis. Dikeluarkan dari surga karena melakukan kesalahan.
Kembali
soal film tadi. Seseorang yang dijadikan pahlawan, ada yang pada sepertiga
durasi film barulah si pahlawan ini diberi tahu mengapa dia harus menjadi
pahlawan. Sepertiga ini ada kesamaan dengan manusia. Rasulullah sudah menyatakan
bahwa usia umatnya berkisar antara 62 - 63 tahun. Sepertiganya adalah 20
tahunan. Usia ini adalah awal – awal setelah usia baligh. Dan ternyata kewajiban beragama pun
harus dilakukan seseorang ketika memasuki usia baligh. Dan pada usia seperti
ini kita masih dalam proses mencari jati diri. Kita harus bisa mengetahui dasar
– dasar pengetahuan agama untuk digunakan di duapertiga umur yang akan datang. Dan
disanalah kita akan menemukan jawaban “MENGAPA SAYA” jadi khalifah di muka bumi
setelah memasuki sepertiga dari seluruh umur kita.
Kalimat
bijak yang bisa kita gunakan dalam pencarian jati diri ini yang mungkin
sebagain orang tidak sepaham namun bisa kita analisa kebenarannya dalam
kehidupan kita adalah :
“Remaja Mencari Jati Diri Bergaul Dengan Temannya
Dewasa Mencari
Jati Diri Bergaul Dengan Tuhannya”
Sudah
berlaku secara umum bahwa seorang remaja pasti dipersilahkan bergaul oleh orang
tuanya karena salah satu manfaatnya supaya remaja yang sedang dalam proses
mencari jati diri bisa menemukan apa yang dibutuhkannya sesuai dengan umurnya. Meskipun
sudah ada kesadaran bahwa jenis pergaulannya harus diwaspadai supaya tidak
salah jalan bahkan tersesat.
Nyatanya
dunia pergaulan anak dan remaja sekarang sudah sangat rentan. Maka jika
seutuhnya menyerahkan proses pencarian jati diri ini kepada pergaulan saja, itu
sama dengan orang tua lari dari tanggung jawab. Akibatnya proses pencarian jati
diri ini tidak cukup dibatasi hanya pada usia remaja. Bila dikaitkan dengan
film, memang tidak semua film yang menentukan sepertiga cerita baru si aktor
diberikan posisi pahlawan. Bisa jadi di pertengahan atau bahkan seluruh
kisahnya. Barangkali kita bisa melihat hal ini dalam film yang diangkat dari
kisah nyata karena film ini jauh dari rekayasa. Jadi semua proses perjalanan kisah
itu yang membuat seseorang jadi pahlawan.
Meski
demikian, proses mencari jati diri ini memang lebih baik melihat kenyataan
daripada membandingkannya dengan film. Tapi makna sebuah posisi dan peran
sebagai pahlawan masih bisa kita lihat dari sana. Kembali mengutip apa yang
dinyatakan Kakeknya Spiderman, “Semakin
Besar Anugerah Yang Diterima, Semakin Besar Tanggung Jawabnya”.
Menjadi manusia dan posisinya di
muka bumi tidak lepas dari yang namanya ANUGERAH. Jangankan diseluruh perjalanan hidup, sejak
awal kita diciptakan saja, kelebihan yang diberikan kepada manusia sudah
membuat malaikat tidak bisa apa – apa.
Perhatikan pecakapan malaikat dengan
Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 31 – 33 : “Dan Dia ( Allah ) mengajarkan kepada Adam Nama-nama ( benda
- benda ) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu Allah berfirman:
"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar
orang-orang yang benar!". Mereka menjawab : "Maha suci Engkau, tidak
ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." Allah berfirman : "Hai Adam,
beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah
diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman:
"Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui
rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan?"
Bahkan telah diriwayatkan pula bahwa malaikat Jibril
pernah menginginkan untuk menjadi manusia karena 7 perkara. Dalam sebuah
hadits, Rasulullah SAW sempat
berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib RA : “Ada
7 perkara yang membuat malaikat Jibril ingin menjadi manusia : Sholat
berjamaa’ah di masjid dengan imam, duduk bersama alim ulama, menjenguk orang
yang sakit, mendamaikan 2 orang yang berselisih, mengantarkan jenazah hingga
liang kubur, menyantuni anak yatim dan menuangkan / memberi air pada orang yang
kehausan.”
Pasti malaikat Jibril paham betul dengan
pahala yang bisa didapatkan dari 7 perkara ini. Ambil contoh paling terakhir
yaitu memberikan minum kepada orang yang kehausan. Jangankan kepada manusia,
kepada anjing saja, seorang wanita pelacur bisa masuk surga karena memberikan
minum anjing ini yang tengah kehausan.
Meski
jibril paham pahala ibadah seperti itu, namun ada malaikat lain yang ternyata
gagal setelah diberikan kesempatan menjadi seperti manusia. Setelah Iblis yang
durhaka diusir dari surga ke bumi dan Adam diarak para Malaikat dengan upacara
penuh kemewahan serta dihiasi mahkota-mahkota kemuliaan-Nya, Adam kemudian
disemayamkan di kerajaan surga, maka saat itulah dalam benak HARUTH dan MARUTH
begitu digelayuti pikiran
-pikiran yang akhirnya memuara pada sebuah tanda Tanya besar seperti :
“Ya,
Allah Ya Rabbi, betapa Engkau telah mengucapkan perkataan penuh rahasia…”, yakni : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui.”.
“Betapa
Engkau begitu memuliakan Adam, makhluk ciptaan-Mu yang hanya berasal dari tanah
namun mendapat kehormatan menjadi “KHALIFAH DIMUKA BUMI”, dimanakah letak
hikmah-Mu Ya, Rabb…?”
“Sedangkan
bangsa Jin yang telah Engkau ciptakan dari unsur yang kuat saja ( api ), gagal
menjadi khalifah dimuka bumi, apalagi manusia yang lemah dan juga suka
menumpahkan darah serta berbuat kerusakan dimuka bumi”.
Beribu
- ribu tahun HARUTH dan MARUTH menyimpan pertanyaan itu, namun bukannya Tuhan
tak mengetahui, bukannya Tuhan tak mendengar. Hingga sampailah pada suatu
zaman.
Maka pada
moment berikutnya, timbulah keinginan Malaikat untuk menajdi manusia dalam
rangka untuk lebih khidmat lagi mempersembahkan bakti ketaatan dan keikhlasan
kepada Allah Ta’ala. Para Malaikat ingin seperti Ibrahim yang notabene hanya
manusia tapi mampu mencapai derajat melebihi Malaikat.
Lalu para malaikat
mengajukan permohonan kepada Rabb, Tuhan Semesta Alam :
“Ya, Allah
Ya Tuhanku, perkenankan kami untuk diberi kesempatan menjadi manusia”.
Allah menjawab :
Allah menjawab :
“Sungguh
jika kalian menjadi manusia niscaya kalian akan melakukan sebagaimana yang
mereka lakukan juga”. (Berbuat dosa dan kerusakan dimuka bumi )
Para
Malaikat menjawab, “Maha Suci Engkau wahai Tuhan, takkan mungkin kami
mendurhakai-Mu”.
Allah
berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak engkau ketahui.”
Kemudian malaikat
menjawab, “Kami adalah lebih patuh kepada Engkau dibanding anak keturunan
Adam.”
Kepada para malaikat,
Allah mengatakan : “Panggillah ke mari
dua malaikat. Aku akan turunkan mereka ke bumi hingga kalian dapat melihat apa
yang dilakukan kedua malaikat itu”.
Allah pun
menyatakan : “Pilihlah dua diantaramu
yang termulia”.
Malaikat
menjawab : “Tuhanku, biarlah Haruth dan Maruth yang melakukannya”
Dengan kebijaksanaan, Allah
menjadikan Haruth dan Maruth berubah menjadi manusia dan menurunkannya ke bumi
dengan dibekali hawa nafsu. Mereka turun ke bumi dengan membawa tugas, yaitu
mengajarkan manusia logika ilmu sihir, yang tujuannya adalah untuk melawan
ilmu-ilmu sihir setan. Sekaligus mengajarkan manusia kebaikan. Allah berfirman
:
“Mereka
(para setan) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada
dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak
mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami
hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari
dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan
antara seorang (suami) dengan isterinya”. QS. Al - Baqarah
: 102
Dan
dimulailah misi mereka mengajarkan orang-orang di kerajaan Babilon beberapa
logika ilmu sihir dan cara melawan ilmu sihir setan. Singkat cerita, setelah
kedatangan Harut dan Marut maka terjadilah gerakan perlawanan rakyat terhadap
para ahli sihir setan. Akhirnya para ahli sihir setan pun berhasil di kalahkan
dan tersingkir dari Babilon. Penguasa kerajaan Babilon kemudian mengumumkan
larangan keras bagi warganya untuk mempelajari ilmu-ilmu sihir.
Diriwayatkan
dari Ali bin Abi Thalib ra ; kedua malaikat itu mengajarkan kepada manusia
tentang peringatan terhadap sihir bukan mengajarkan untuk mengajak mereka
melakukan sihir. (al Jami li Ahkamil Qur’an juz II hal 472.
Akhirnya,
sebagai penghargaan terhadap Harut dan Marut yang telah dianggap oleh rakyat
sebagai guru besar, penguasa kerajaan Babilon memberikan mereka kedudukan
tinggi sebagai penasihat kerajaan sekaligus sebagai HAKIM AGUNG. Mereka hidup
dalam kemewahan dengan harta yang berlimpah.
Namun
demikianlah, ternyata kedudukan tinggi dan bergelimang harta itu perlahan mulai
membuat hawa nafsu Harut dan Marut menjadi tak terkendali. Mereka akhirnya
mabuk dalam kenikmatan duniawi dan melupakan tugas-tugas mereka sebagai
manusia. Dan mulailah Haruth Maruth terlilit benang-benang petaka syetan yang
tentu akan membuat nasib kehidupannya menjadi penuh dengan tragedy dan nestapa.
Diriwayatkan
oleh Ibnu Abbas ra : Dengan kehendak Allah, lalu datang seorang wanita yang
cantik bagai bunga ( Zahrah / Azzura ). Azzura adalah puteri mahkota
ketajaan,dan iapun mulai memasuki kehidupan kedua malaikat itu.
Kedua
malaikat itu tertarik dengan kecantikan Azzura hingga syetan membisikkan godaan
keinginan ( hasrat ) terhadapnya, namun iman kedua Malaikat yang telah menjadi
manusia itu masih kuat mempertahankan.
Suatu hari
Azzura berkata, “Maukah kamu mengucapkan kalimat mantera ,aku hendak
mengguna-guna seseorang?”
Haruth dan
Maruth menjawab, “Tidak, demi Allah, sedikit pun kami tidak mau mempersekutukan
Allah untuk selama-lamanya!”
Azzura
meninggalkan mereka berdua. Pada hari yang lain, Azzura kembali lagi dengan
permintaan bantuan untuk menjadi pembunuh bayaran. Sambil mendekati kedua
malaikat itu Azzura terus merayu dan berkata, “Bersediakah!”
Kedua
malaikat itu menjawab, “Tentu saja tidak, demi Allah selamanya aku tidak akan
berbuat membunuh!”
Suatu ketika
Azzura mengajukan perkara ke pengadilan kerajaan, sang Raja memerintahkan
Haruth Maruth berlaku sebagai hakimnya. Azzura selalu mendatangi kediaman
Haruth Maruth untuk membujuk agar mereka memenangkan perkaranya. Dan dilain
hari Azzura datang sambil membawa segelas arak. Setelah merayu mereka, akhirnya
Azzura berkata, “Aku tidak akan mengenalmu lagi jika kalian tidak berada
dipihakku”, kemudian Azzura menawarkan secawan arak kepada mereka.
Akhirnya
kedua malaikat itu lalai dan tergoda oleh kemolekan Azzura kemudian karena tak
ingin mengecewakan Azzura. Haruth Maruth pun tenggelam dalam mabuk dan kemudian
merekapun melakukan perbuatan terlarang,mereka memperkosa Azzura. Kemudian dalam
kepanikan akibat pengaruh minuman keras itu,mereka akhirnya malah semakin lepas
control dan akhirnya membunuh Azzura untuk menutupi jejak dosa mereka.
Maka
jatuhlah mereka ke dalam nista yang tak pernah mereka sangka-sangka.Raja sangat
berang,yang akhirnya menjatuhkan hukuman mati atas Haruth dan Maruth diatas
tiang gantungan,kemudian jasadnya dibuang ke laut.
Setelah
mereka dibuang ke lautan, datanglah Malaikat Jibril dari langit memberitahu
Haruth dan Maruth bahwa masa tugas mereka telah berakhir. Dan mereka
diperintahkan kembali ke langit untuk melapor.
Betapa
kagetnya Harut dan Marut, karena saat itu juga ingatan mereka sebagai malaikat
telah kembali. (Diriwayatkan oleh Makhul, dari Mu’adz).
Maka datanglah
dari sisi Allah malaikat Jibril kepada mereka. Pada saat Jibril datang, Harut
dan Marut menangis dan Jibril ikut menangis sambil berkata,
“Sesungguhnya
cobaan apakah yang membuat kalian sampai hanyut seperti ini?”
Dengan
ketakutan yang dahsyat, Harut dan Marut dihantarkan kembali ke langit menghadap
Allah untuk menjalani pemeriksaan dan sidang pengadilan dari Tuhannya.
Maka
disaksikan seluruh malaikat, diputarlah kembali rekaman riwayat laku perbuatan
Haruth dan Maruth selama menjalani kehidupan sebagai manusia, dengan status
“GAGAL MENJADI MANUSIA”,yang berakhir dengan memilkul dosa besar. Saat itu juga
seluruh malaikat bertasbih dan beristighfar kepada Allah. Karena mereka
menyadari betapa tidak mudahnya menjadi manusia. Dan betapa masih ada manusia-manusia
baik yang tidak layak diazab.
Akhirnya
Allah menutup sidang itu dengan eksekusi dan menawarkan pada Harut dan Marut
dua pilihan : Ingin di azab di dunia, atau ingin di azab di akhirat.
Harut dan
Marut yang mengetahui betapa dahsyatnya azab akhirat tentu saja langsung
memilih di azab di dunia. Dan menurut berbagai kisah, Harut dan Marut hingga
kini masih tergantung ditengah samudera dengan keadaan kaki di atas dan kepala
di bawah, maka semua bocoran asap karbondioksida yang ada didunia ini mengalir
terhirup ke pernafasan Haruth dan Maruth.
Dari kisah Haruth dan Maruth. Mereka
nampaknya “meminta peran” menjadi manusia namun gagal total karena nafsu. Tapi
nafsu manusia bukanlah sesuatu yang diciptakan sia – sia. Itulah keunikan
manusia. Manusia diberikan ilmu pengetahuan, malaikat tidak bisa menandingi.
Manusia diberikan nafsu, malaikat tidak bisa mengimbangi. Mengimbangi saja
tidak bisa apalagi menandingi.
Tapi semakin besar anugerah, semakin
besar tanggung jawabnya. Sehingga makhluk lain tidak berani memikul amanat
sebagaimana amanat yang diterima manusia. Allah berfirman :
“Sesungguhnya Kami telah
mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan
untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat
bodoh” (QS. Al-Ahzab: 72)
Apa makna
kezaliman dan kebodohan dalam ayat tersebut. Apakah karena menerima amanat itu
suatu bentuk kebodohan dan kezaliman? BUKAN. Letak kebodohan dan kezalimannya
adalah sudah menerima amanat tapi tidak melaksanakannya dengan baik. Ibarat
film, sudah menerima peran pahlawan tapi malah tidak berperan sebagai pahlawan.
Kalau sudah ditetapkan menjadi khalifah dan sudah diberikan amanat, maka
lakukanlah perbuatan sebagaimana khalifah dan pengemban amanat.
Pertanyaan SIAPA SAYA adalah
hal yang menyangkut apakah saya ini, siapa yang menciptakan, darimana berasal,
bagaimana diciptakan, buat apa diciptakan, bagaimana cara hidup dan mengapa
saya. Jawaban dari semua ini akan membentuk pemahaman yang menciptakan pola
pikir dalam bertindak.
Soal
MENGAPA SAYA intinya adalah sepenuhnya karena kehendak Allah. Keputusan Allah
semata yang menentukan kenapa kita yang menjadi khalifah dengan semua anugerah
yang menyertai kita. Dari semua uaraian di atas, setidaknya sudah memberikan
gambaran bagaimana posisi penciptaan manusia menimbulkan banyak reaksi dan
pengaruh terhadap makhluk lain. Ada semacam pro dan kontra serta efek –
efeknya.
Jika
disederhanakan dalam dunia perfilman. Jika kita sudah tahu mengapa kita yang
menjadi pahlawan, maka tugas selanjutnya adalah menjadi “Aktor Yang
Profesional”. Jadi kita cukup melakukan peran dengan sebaik – baiknya. Ikuti
saja skenario yang direncanakan Allah sebagai “Sang Sutradara”. Nanti di akhir perjalanan
hidup semuanya akan terjawab. Yang kita lakukan sekarang masih dalam proses
memainkan peran. Berusaha memberikan penampilan terbaik meski dunia ini
hanyalah mainan belaka.
“Dan tiadalah kehidupan
dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah
yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahuinya.” ( QS. Al Ankabut 64
).
*
* *

0 komentar:
Posting Komentar