Minggu, 23 Desember 2018

Mengenal Mushaf Al-Qur’an Tertua di Dunia

Kitab Suci Al-Qur’an yang kita kenal saat ini, pada awalnya tidaklah berbentuk sebuah kitab, namun di tulis di atas berbagai media alamiah seperti kulit unta, tulang dan sebagainya, dan dihafal oleh Rosulullah dan para sahabatnya. Pembukuan Al-Qur’an pertama kali dilakukan dimasa Khalifah Usman Bin Affan r.a, dan masih belum disertai dengan tanda baca seperti yang kita kenal saat ini.
Khalifah Usman bin ‘Affan r.a kemudian mulai melakukan pengiriman mushaf al-Qur’an ke beberapa wilayah Islam. Para ulama Islam sendiri berbeda pendapat tentang jumlah eksemplar mushaf yang ditulis dan disebarkan pada waktu itu. Ada yang menyebutkan bahwa khalifah Usman membuatnya dalam empat eksemplar, lalu mengirimkan satu eksemplar ke wilayah Kufah, Bashrah dan Syam, lalu menyisakan satu eksemplar di sisinya. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau menuliskan sebanyak 7 eksemplar. (Selain yang telah disebutkan tadi) ia mengirimkan juga untuk Mekkah, Yaman, dan Bahrain. Ada juga yang mengatakan bahwa jumlah mushaf itu ada 5 eksemplar.
Semua naskah itu ditulis di atas kertas, kecuali naskah yang dikhususkan ‘Utsman bin ‘Affan r.a untuk dirinya –yang kemudian dikenal juga dengan ­al-Mushaf al-Imam-. Sebagian ulama mengatakan ditulis di atas lembaran kulit rusa. Mushaf-mushaf tersebut oleh para ahli al-Rasm kemudian diberi nama sesuai dengan kawasannya. Naskah yang diperuntukkan untuk Madinah dan Mekkah kemudian dikenal dengan sebutan Mushaf Hijazy, yang diperuntukkan untuk Kufah dan Bashrah disebut sebagai Mushaf ‘Iraqy, dan yang dikirim ke Syam dikenal dengan sebutan Mushaf Syamy.
Dalam proses pendistribusian ini, ada langkah penting lainnya yang juga tidak lupa dilakukan oleh ‘Utsman bin ‘Affan r.a. Yaitu menyertakan seorang qari’ dari kalangan sahabat Nabi saw bersama dengan mushaf-mushaf tersebut. Tujuannya tentu saja untuk menuntun kaum muslimin agar dapat membaca mushaf-mushaf tersebut sebagaimana diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Ini tentu saja sangat beralasan, sebab naskah-naskah mushaf ‘Utsmani tersebut hanya mengandung huruf-huruf konsonan, tanpa dibubuhi baris maupun titik. Sejak saat ini mushaf Al-Qur’an tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Dari edisi terbitan Kitab Suci Al-Qur’an di masa Usman Bin Affan Tersebut, sampai saat ini hanya dua eksemplar yang masih bisa dilacak keberadaanya. Satu eksemplar berada di Tashkent, Uzbekistan dan satu Eksemplar lagi disimpan di Museum Topkapi, Istambul, Turki. Berikut ini kami sajikan beberapa Al-Qur’an tertua yang masih dapat ditemukan hingga saat ini.
Al-Qur'an Tulisan Utsman bin Affan di Tashkent, Uzbekistan (651H)
Mushaf Al-Qur'an tertua di Tashken
Mushaf Al-Qur’an pertama kali di bukukan pada masa khalifah Usman Bin Affan 651 atau 19 tahun setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Beliau membuat lima salinan dan menyebarnya ke berbagai wilayah Islam. salah satu dari Mushaf pertama tersebut kini disimpan di kawasan Hast-Imam, Kota Tashkent, ibukota negara Uzbekistan. Salinan lainnya juga masih tersimpan di Topkapi Palace di Istanbul, Turki.
Al-Qur'an tertulis yang pertama ini sangat berharga sehingga penyimpanannya diletakan dalam sebuah lemari kaca yang menempel ke dinding. Tapi Oleh karena usianya yang sudah ratusan tahun, Al-Qur'an yang ayat-ayatnya ditulis dalam bahasa Hejaz dan ditorehkan diatas kulit rusa ini tidak utuh lagi, hingga kini hanya menyisakan 250 halaman. Lokasi penyimpanan Al-Qur'an ini berdekatan dengan makam ilmuwan dari abad ke-10, Kaffel Sashi. Berada di kawasan bangunan yang menjadi pusat aktivitas Mufti Uzbekistan atau pimpinan keagamaan tertinggi negara. Tidak jauh dari lokasi penyimpanan Al-Qur'an tersebut, terdapat sebuah rumah yang melindungi benda sejarah lainnya, yaitu helai rambut Rasulullah SAW. 
pengakuan dari UNESCO
Sampainya Al-Qur'an dari dinasti pemerintahan Utsman bin Affan ke Tashkent ini sangat luar biasa. Setelah kematian Utsman bin Affan, sebagian orang menyatakan bahwa Al-Qur'an ini dibawa oleh Ali bin Abi Thalib ke Kuffah atau yang sekarang dikenal sebagai Irak. Tujuh ratus tahun kemudian, ketika Tamerlane (penakluk kawasan Asia Tengah) datang ke daerah ini, ia menemukan Al-Qur'an ini dan membawanya ke ibu kotanya di Samarkand, Al-Qur'an ini berada di Samarkand lebih dari empat abad, hingga orang Rusia menaklukan kota ini pada tahun 1868.
Saat itu, Gubernur Rusia mengirimkan Al-Qur'an ini ke St Petersburg dimana Al-Qur'an ini kemudian di simpan di perpustakaan kerajaan. Namun setelah pecahnya revolusi Bolshevik, Lenin yang sangat bernafsu menguasai daerah umat Islam mengirimkan Al-Qur'an ini ke Ufa atau yang kemudian dikenal sebagai Bashkortostan. Namun akhirnya, setelah berulang kali diminta oleh Muslim Tashkent, Al-Qur'an ini akhirnya kembali lagi ke Asia Tengah pada tahun 1924. Sejak saat itulah, Al-Qur'an ini ditempatkan di Tashkent dan berlangsung hingga saat ini. Sejak awal keberadaannya, Al-Qur'an ini telah menarik perhatian banyak orang termasuk petinggi umat Islam untuk mengunjunginya.[i]
Al Quran Tertua di University of Tübingen, Jerman (642M – 662M)
Mushaf koleksi Universitas Tübingen
Peneliti di University of Tübingen di Jerman kini tengah meneliti sebuah Al Quran tulisan tangan. Disebutkan bahwa Quran tersebut berasal dari masa-masa awal pertumbuhan agama Islam. Deutsche Welle melaporkan kopi Al Quran itu tiba di perpustakaan universitas itu pada tahun 1864. Tadinya Al Quran ini koleksi pribadi Konsul Prusia Johann Gottfied Fitz Stein sebelum dibeli University of Tübingen.
Dari penelitian yang dilakukan, Al Quran itu ditulis sekitar 20 hingga 40 tahun setelah Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya hijrah dari Mekkah ke Madinah di tahun 622 Masehi. Menurut jurubicara universitas, kopi Al Quran tersebut ditulis dalam aksara Kufic, salah satu aksara tertua dalam bahasa Arab. Belum diperoleh informasi lain berkaitan dengan penelitian itu, termasuk apakah penelitian ini melibatkan ahli Islamologi atau hanya ahli bahasa dan arkelog.[ii] [iii]Naskah Al-Qur’an ini dapat dibaca di link ini
Al-Quran Tertua di Kota Dhale, Yaman (Tahun 200H / 815M)
Seorang pemuda di Yaman menemukan cetakan al-Quran tertua yang pernah dikenali dalam sebuah gua. Walaupun ditawari ratusan juta rupiah, pemuda ini menolak melepaskan al-Quran tersebut.  pemuda yang tidak disebutkan namanya ini mengaku menemukan al-Quran itu terbungkus sampul kulit di dalam sebuah gua di dalam gunung, sebelah selatan kota Dhale. Dalam halaman pertama Quran ini terdapat tulisan: "Manuskrip ini ditulis tangan pada tahun 200 hijriyah (815 masehi)". Dalam pengujian keaslian, diketahui bahwa manuskrip kitab suci itu asli. Berarti, cetakan al-Quran itu adalah yang tertua yang pernah ditemukan.
Bukti kebenaran penanggalan bisa dilihat dari jenis tulisan yang digunakan. Dalam al-Quran ini tidak ada titik-titik yang terdapat dalam abjad Arab masa kini. Tulisan dalam al-Quran ini adalah tulisan Arab lama. Titik-titik baru ditambahkan pada beberapa abad berikutnya untuk membedakan huruf yang hampir sama. Pemuda ini pernah ditawari uang sebesar 12 juta riyal Yaman atau sekitar Rp538 juta namun menolaknya dan memutuskan untuk tetap menyimpannya. Selain menemukan al-Quran tertua itu, pemuda ini juga dilaporkan menemukan pedang Zulfikar, yang merupakan hadiah dari Nabi Muhammad SAW untuk khalifah Islam keempat Ali bin Abi Talib yang juga merupakan menantunya.[iv]
Manuskrip Sana’a, Yaman (645-690M)
mushaf Sana'a, Yaman
Manuskrip Sana'a, ditemukan di Yaman pada tahun 1972 secara tidak sengaja oleh pekerja bangunan yang merenovasi dinding loteng Masjid Agung Sana’a. Mereka tidak menyadari apa yang mereka temukan dan mengumpulkan dokumen-dokumen tersebut, dan memasukkannya ke dalam 20 karung kentang, kemudian meninggalkannya di salah satu tangga menara Masjid. Penelitian terhadap manuskrip tersebut baru dilakukan pada tahun 1979 oleh para ilmuwan Jerman.
Hasil penelitian dengan test karbon terhadap manuskrip tersebut justru membingunkan. Tes karbon-14 menunjukkan beberapa perkamen berasal dari tahun 645-690 sesudah masehi. Periode ini cukup panjang, terutama jika perkamen itu digunakan ulang, yang wajar dilakukan pada zaman dahulu. Sedangkan kaligrafinya berasal dari tahun 710-715 sesudah masehi. Artinya bahwa jenis kaligrafi yang digunakan pada manuskrip tersebut justru lebih muda dari usia manuskripnya sendiri. Walaupun teks tersebut bertanggalkan hingga dua dekade awal pada abad 8 (kira-kira 70 tahun setelah kematian Nabi Muhammad), tes dengan karbon-14 menunjukan beberapa perkamen dalam kumpulan ini sudah ada sejak abad 7 dan 8. Seluruh manuskrip tersebut kini sudah dibersihkann, diurutkan, dan ditata. Dan disimpan di Perpustakaan manuskrip Yaman. [v]
Manuskrip Al-Qur’an Dong Xian, China (abad ke 8-13M)
mushaf tertua di Cina
Sebuah manuskrip kuno al-Quran ditemukan kota Dong Xian, Provinsi Gansu, Cina utara. manuskrip kuno ini merupakan al-Quran yang terbit pada abad 11M. Petugas Warisan Budaya Provinsi Gansu menyatakan bahwa Quran setebal 536 halaman ini ditulis di atas kertas Samarqand. Berdasarkan dokumen yang ada, manuskrip al-Quran ini dibawa dari kota Samarqand, Uzbekistan ke Cina pada Abad 14M.
Manuskrip tua ini disebut-sebut sebagai manuskrip al-Quran tertua yang ditemukan hingga kini, karena para arkeolog menyatakan bahwa manuskrip tua berasal dari abad 8-13 M. Bahkan berdasarkan penelitian terhadap kaligrafi dan dekorasi manuskrip ini, ada sejumlah pakar yang menyatakan bahwa manuskrip tersebut berasal dari abad 9M.[vi]
Mushaf Al Quran Tertua di Bone, Sulawesi Selatan, Indonesia (Abad ke 16)
mushaf tertua di Bone, Sulawesi Selatan
Dari penampakannya, Al Quran ini terlihat sudah tua. Lembarannya terlihat sudah usang. Tapi, kitab suci umat Islam ini diyakini yang tertua di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Al Quran tersebut memiliki ketebalan delapan inchi, plus sampulnya. Tiap lembarnya bukan terbuat dari kertas, melainkan kulit unta. Meski beberapa lembar Al Quran ini telah lapuk dimakan usia, namun tetap bisa dipergunakan sebagaimana layaknya Al Quran biasa. Tulisan arab di dalamnya, merupakan tulisan tangan, yang masih jelas, tidak buram
Al Quran tersebut dimiliki oleh keluarga almarhum Haji Rahman. warga jalan Gunung Sumeru, Kelurahan Watampone, Kecamatan Taneteriattang, Kabupaten Bone. Kelurga itu telah memegang Al Quran tersebut selama 13 generasi, sekitar abad 16 atau 400 tahun yang lalu. Merupakan warisan dari Tuan Pekki penyebar Islam pertama di Bone. Saat ini dipegang oleh keturunan beliau yang bernama Eki Muliadi Rahman.[vii]
Al Qur’an Tertua di Alor, NTT, Indonesia
Alqur’an tertua ini menjadi salah satu bukti masuknya Islam ke Kabupaten Alor, Nusa Tengga Timur.  Al-Qur’an tersebut berasal dari Kesultanan Ternate pada masa Kesultanan Babullah V sekitar tahun 1519 masehi. Dibawa oleh Lang Gogo bersama empat saudaranya yang merantau untuk menyebarkan Islam. Al Quran tersebut terbuat dari kulit kayu.
Saat ini Al Quran tersebut disimpan oleh Saleh Panggo Gogo yang merupakan generasi ke-13 keturunan Iang Gogo dari kesultanan Tarnate di desa Desa Lerabaing, Alor, NTT. Pada Festival Legu Gam di Tarnate pada tahun 2011, Al quran tertua ini didatangkan khusus oleh Sultan Tarnate dari Alor.[viii]
REFERENSI
Utama :
https://hendrajailani.blogspot.com/2014/12/mengenal-mushaf-al-quran-tertua-di-dunia.html



Senin, 29 Januari 2018

Mengenal Diri & Tuhan

     Kalau kita menonton film – film yang dibuat di Hollywood atau bahkan film dari negara manapun, ada sebuah situasi dan kondisi dimana si aktor atau aktris mengalami hal yang serupa bahkan mendekati kesamaan meskipun judul dan genre filmnya sama sekali berbeda dan dibuat pada waktu yang berbeda pula.
     Kebanyakan disetiap film Amerika terlebih yang menceritakan tentang perlawanan antara yang baik dan buruk, hitam dan putih, maka selalu ada salah satu aktor / aktris yang sudah ditentukan menjadi pemeran utama dimana dia sekaligus akan menjadi pahlawannya. Bahkan lebih mengesankannya lagi, sang sutradara sangat pandai mengkondisikan bagaimana keadaan seorang pahlawan yang tadinya tidak memiliki kemampuan apa – apa, bahkan oleh orang dianggap sebagai sosok yang lemah dan biasa – biasa saja, malah dialah yang nantinya akan menjadi pahlawannya.
     Ada juga beberapa film dimana alur ceritanya memuat tentang peristiwa yang mengancam nyawa dari sekelompok orang tapi yang selamat dan bertahan hidup sampai diakhir cerita justru orang yang tidak disangka – sangka. Kadang – kadang bisa seorang gadis, seorang wanita hamil, orang tua, bahkan seorang anak kecil.
     Sebagai contoh ada salah satu film dimana seorang balita yang hendak diculik oleh tiga orang penjahat dimana para penjahat ini akan menjadikan anak itu sebagai sandera supaya mereka bisa mendapatkan uang tebusan sebab orang tua si anak adalah orang kaya raya.
     Dalam film itu, si anak dengan segala kelemahan dan kepolosannya, justru dia selalu bisa lolos dan kejaran para perampok karena sudah direncanakan adanya sebuah situasi dan kondisi dimana si anak yang selalu akan mendapatkan kesempatan dan keberuntungan sementara para penjahan mendapatkan kesialan.
     Film memang hanyalah sebuah karya fiksi dan yang namanya fiksi, segala sesuatu bisa terjadi dan dikondisikan menurut keinginan sutradara karena merupakan bagian dari strategi perfilman karena mereka sangat tahu “cara menciptakan” sebuah film yang bagus yang bisa menjadi sebuah karya yang luar biasa.
     Namun apa yang menjadi kesamaan yang dialami para pahlawan di film - film ini?. Kesamaan itu adalah dimana saat seorang aktor / aktris dinyatakan sebagai pahlawan dalam film itu, mereka mendahuluinya dengan bertanya dalam dialog perannya : “Why Me?” / “Mengapa Saya?”.
     Bahkan kita sebagai penonton, pasti akan akan menanyakan hal serupa, “Iya ya, mengapa harus dia yang jadi pahlawan?”. Hal ini bisa terjadi karena memang seperti apa yang diuraikan di atas, kita sudah melihat calon pahlawannya ini bukan siapa – siapa dan rasanya memang tidak memiliki kemampuan apa – apa untuk menjadi pahlawan. Alur ceritanya dari awal memang memberi kesan demikian.
     Kesamaan lainnya adalah seseorang dinyatakan sebagai calon pahlawan biasanya terjadi di sepertiga cerita dari keseluruhan filmnya. Meskipun hal ini tidaklah menjadi patokan utama. Yang paling terpenting adalah soal “Mengapa Saya?” itu.
     Apa yang terjadi setelah si calon pahlawan ini bertanya “Mengapa Saya?”. Setelah si aktor / aktris bertanya demikian, barulah dijelaskan mengapa dia yang harus menjadi pahlawannya. Dibuatlah semacam situasi dan kondisi yang menceritakan Flash Back sebuah peristiwa atau berupa pengungkapan data dan fakta sehingga membuat posisi si aktor / aktris menjadi terkondisikan dengan sendirinya atau memaksa dia menjadi pahlawannya dan tidak bisa digantikan siapapun selain dia.
     Mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan film yang diangkat dari kisah nyata? Bukankan hal ini sangat jauh dengan situasi dan kondisi cerita yang dipenuhi dengan  hal – hal fiktif belaka?  Untuk film yang diangkat dari kejadian sebenarnya, maka pertanyaan “Mengapa Saya?” biasanya akan terjawab dengan sendirinya setelah kita melihat keseluruhan filmnya. Itupun jika si pahlawan tidak bertanya “Mengapa Saya?”, maka kitalah yang menjadi penonton yang harusnya bertanya “Mengapa Dia?”
     Tapi apa hikmah yang bisa diambil dari semua penjelasan di atas? Ada sebuah kalimat bijak yang barangkali bisa dijadikan bahan renungan bagi kita semua :

“Barang Siapa Mengenal Dirinya, Maka Dia Akan Mengenal Tuhannya”

     Kalimat ini barangkali pernah didengar atau dibaca sebagai Hadits Nabi. Namun sebenarnya kalimat ini setelah dilakukan pengkajian, tidak ditemukan kepastian bahwa sumbernya berasal dari Nabi Muhammad SAW. Makanya lebih tepat anggap saja kalimat ini sebagai kata – kata bijak.
     Apakah bisa kalimat ini dijadikan kata – kata bijak?. Meskipun bisa jadi ada yang tidak sepaham, namun kita bisa menganalisanya dengan mempertimbangkan apa yang sudah diuraikan di atas mengenai film. Bagaimana seseorang yang menjadi pahlawan itu ternyata wajib mengetahui siapa dirinya sebenarnya dan mengapa dia yang harus menjadi pahlawan.
     Jika kita hidup di dunia yang penuh dengan pertempuran antara hitam putih, baik dan buruk, maka salah satu bagian terpenting bagi kita dalam mempersiapkan diri adalah dengan mengenal siapa kita sebenarnya.
     Kalau kita mau sedikit menganalisa, coba perhatikan apa yang terjadi di film – film Amerika itu terhadap calon pahlawannya? Apakah mereka tidak tahu siapa dia? Apakah mereka adalah orang yang sedang mabuk, hilang ingatan atau sakit jiwa? Jawabannya TIDAK selalu seperti itu.
     Mereka yang jadi pahlawan ini, tidak selalu orang yang tidak tahu siapa dia. Artinya mereka memang tahu tentang dirinya. Meski di beberapa film, ada pemerannya yang dibuat seperti hilang ingatan dan sebagainya, namun ada juga sebaliknya. Mereka tahu seperti apa diri dan kemampuan yang dimilikinya bahkan mereka sadar tidak pantas menjadi pahlawan, maka dari situlah yang memberikan alasan sehingga dia harus bertanya “Mengapa Saya?”.
     Mereka bisa berasal dari berbagai profesi, berbagai tingkat kepandaian dan berbagai jenis kepribadian bahkan umur. Sampai di sini, kenyataannya yang mengharuskan mereka jadi pahlawan dianggap sebagai “GIVE” atau anugerah. Spiderman dalam salah satu dialongnya menyebut bahwa “Semakin Besar Anugerah Yang Diterima, Semakin Besar Tanggung Jawabnya”.
     Kaitannya dengan kehidupan manusia, kalau kita melihat sejarah manusia diciptakan pertama kali, ketika Allah Maha Pencipta menggunakan Kekuasaan-Nya dan bertindak sebagai “Sang Sutradara” dan menetapkan manusia sebagai khalifah di muka bumi, para malaikatlah yang mempertanyakan mengapa Allah harus menciptakan manusia di muka bumi yang bisa menimbulkan pertumbahan darah.
     Diumpamakan dalam dunia perfilman, Malaikat posisinya sama seperti penonton atau seperti aktor bukan pahlawan. Jika Malaikat seperti penonton, dia belum melihat bagaimana “Sang Sutradara” menentukan alur cerita yang akan terjadi dan yang akan dilalui manusia di dunia. Padahal Allah punya “Cara Menciptakan Film” yang semuanya bersisi kisah nyata dan cerita ini lebih sempurna dari sutradara manapun. Maka Allah pun lebih tahu alasan mengapa manusia ditetapkan sebagai Khalifah dan sebagai makhluk terbaik. Sampai akhirnya Allah cukup memberikan pernyataan bahwa Dia lebih tahu dari apa yang diketahui malaikat.
Dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30 Allah berfirman :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
     Bukan hanya malaikat, Iblis pun demikian. Jika malaikat mempertanyakan keputusan Allah yang akan menciptakan manusia, maka Iblis mempertanyakan sesuatu setelah manusia diciptakan mengenai apa yang harus dilakukan Iblis dihadapan manusia. Mengapa Iblis harus sujud kepada manusia padahal Iblis merasa lebih baik karena diciptakan dari api sedangkan manusia hanya dari tanah?.
     Jika Iblis seperti penonton, dia juga mempertanyakan “Peran” manusia dilihat dari asal penciptaan manusia. Kerendahan si aktor dijadikan alasan untuk tidak sujud dihadapannya atau “tidak layak dijadikan pahlawan”.
     QS. Al – Baqarah, 34 : Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”
     QS. Al – Hijr, 29 – 32 : Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. Kecuali iblis. Ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?". Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
     Bila memperhatikan sikap iblis itu, kita bisa saja bertanya, apa yang membuat iblis jadi sombong? Apakah karena “DIA MENGENAL DIRINYA” makanya dia merasa lebih baik dari manusia?. Jawabnya BISA JADI DIA MENGENAL DIRINYA. Dia berani menyatakan “MENGAPA SAYA Harus Sujud Dihadapan Manusia?”. MENGAPA SAYA ini adalah penegasan bahwa iblis memiliki sesuatu dalam dirinya yang dianggap lebih baik dari manusia. Apakah hanya karena diciptakan dari API saja? TIDAK JUGA.
     Kalau dianalisa, sebenarnya ada EMPAT CATATAN kenapa Iblis merasa lebih baik dari manusia kemudian dia “menghinakan” manusia dengan melihat dari apa manusia diciptakan. Untuk menerangkan hal ini, kita harus melihat seperti apa iblis sebelum diperintahkan sujud kepada adam.
     Dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali dan lebih rinci lagi dalam kitab hadits karangan Syaikh Taftazani bin Basyumi, namanya kitab "Sholawatul Kabul Akhbar", menguraikan bahwa kepada Iblis, Allah memerintahkan, memberi tugas, memberi mandat yang agung sangat mulia, diantaranya sebagai berikut :
1. Iblis sebagai penjaga surga dalam kurun waktu 40.000 tahun.
2. Iblis pernah hidup bersama bergabung dengan Malaikat selama 80.000 tahun.
3. Iblis diangkat menjadi penasehat Malaikat selama 20.000 tahun.
4. Iblis menjadi pemimpin malaikat karobiyyun dalam waktu 30.000 tahun
5. Iblis melakukan thowaf (mengelilingi) arasy bersama para malaikat dalam waktu 14.000
Jadi secara keseluruhan iblis beribadah melakukan semua perintah kepada Allah dalam kurun waktu 185.000 tahun lebih. Selama dalam ibadahnya seperti melakukan sholat, puasa, thowaf dengan para malaikat ( mengelilingi baitul makmur di Dan arasy ), iblis tidak merasa lelah dan mengeluh menjalankan perintah Allah, tugas-tugas Allah yang termulia ini, iblis menjalankan dengan ikhlas, tidak ada niat apapun kecuali karena Allah semata.
Iblis pun diberi gelar Al A’ziz ( makhluk Allah yang termulia ). Ada yang memberi gelar A’zazil ( panglima besar malaikat ). Oleh karenanya di langit pertama sampai ketujuh, iblis dihormati para malaikat. Di langit yang pertama berkibarlah bendera bertulis Al ‘abid  ( iblis ahli ibadah ). Langit ke 2 berkibarlah tulisan Al Zahid ( iblis ahli suci ) tidak melanggar larangan Allah, dan mematuhi segala perintah Allah. Langit ke 3 berkibarlah tulisan Al Ar’rif ( yang mengetahui segala kekuasaan kemulyaan Allah ). Langit ke 4 berkibarlah tulisan Al Waliyu ( yang dibebani dan dikasihi Allah ). Langit ke 5 berkibarlah tulisan Attaqiyu ( yang takut / patuh perintah Allah ). Langit ke 6 berkibarlah tulisan Alkazinu ( yang mengawasi makhluk Allah yang bernyawa ). Langit ke 7 berkibarlah tulisan Azroilu ( yang mencabut nyawa / memberi celaka pada makhluk lainnya ).
Namun sayang, di lauhul mahfudz, tulisan “IBLIS” terselubung rapi tidak satupun makhluk yang tahu kecuali Allah, tertera Alkafir Almal’un ( iblis inkar terkutuk ).
Nah, dengan posisi seperti itu, faktanya Iblis lebih baik daripada adam. Iblis kenal betul siapa dirinya karena memiliki posisi terbaik setelah Allah dan di atas malaikat. Dengan posisi seperti itu iblis masih harus sujud kepada Allah karena Allah Yang Maha Besar, ini adalah sebuah pelajaran yang bisa diambil Iblis dan dia menggunakan pelajaran itu untuk memperlakukan adam. Artinya jika yang lebih rendah sujud kepada yang lebih tinggi, maka konsep itu harus selalu berlaku. Seperti itulah prinsip yang dipegang Iblis.
Sehingga Iblis menolak sujud dengan menyatakan : ". . . aku lebih baik daripadanya. Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam dari pada tanah."
Tapi mengapa Iblis tahu ibadahnya sudah sangat banyak dan dirinya memiliki gelar dari langit pertama hingga langit ke tujuh, namun dia membandingkan dirinya dengan adam hanya melihat dari apa adam diciptakan? Kenapa iblis tidak menyebut-nyebut ibadahnya saja?
Jawabannya karena Adam baru diciptakan dan belum pernah melakukan ibadah sebelumnya, maka tidak adil jika faktor ibadah yang dijadikan bahan perbandingan. Artinya iblis tahu juga keadilan dalam keadaan seperti ini. Maka, iblis hanya bisa membandikan dari apa penciptaan antara keduanya karena itu adalah titik awal yang sama – sama sudah dilalui antara keduanya sehingga tepat untuk dibandingkan. Disinilah catatan yang pertama.
Karena penolakan iblis ini, diapun termasuk terjerumus pada kesombongan alias takabbur. Kisah selanjutnya setelah iblis menolak sujud itu, dia masih tetap berdiri tegak sampai malaikat bersujud. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati iblis masih tidak sujud juga. Malaikat pun bersujud yang kedua kali karena untuk menunjukan sikap bersyukur kepada Allah bukan ketundukan kepada manusia, tetapi iblis tetap angkuh dan tidak mau sujud juga.
Hingga akhirnya Allah memutuskan merubah wujud iblis dari bentuk asalnya yang sangat indah cemerlangan. Yang tadinya mempunyai sayap empat, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat, kini menjadi seperti babi hutan. Allah membentuk kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.
Setelah itu Allah mengusirnya dari surga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi. Allah melaknatinya hingga hari kiamat kerana dia menjadi kafir.
     Catatan Kedua dari sikap iblis ini adalah : Kenapa iblis begitu mengenal dirinya namun apa yang dikenal itu hanya dibandingkan kepada adam sementara saat itu mereka sedang berhadapan dengan Allah? Disinilah letak kesalahan Iblis. Seharunya ketika dia mengenal dirinya, jangan sampai melupakan posisi siapapun yang di atas atau yang di bawah. Artinya mengenal diri itu harus menjaga keseimbangan. Terlalu fokus kepada yang di bawah  ( kekurangan ), akan jadi sombong karena lupa siapa yang ada di atas. Terlalu fokus pada yang di atas ( kelebihan ), bisa sombong karena meremehkan yang di bawah. Dengan kata lain, kesombongan itu, dihadapan siapapun tetap salah.
     Meskipun Adam memiliki kekurangan, mestinya Iblis sadar bahwa sujud dihadapan Adam hanyalah bentuk penghormatan dimana penghormatan ini bukan diminta oleh Adam. Tentu beda kalau Adam sendiri yang meminta tanpa pernah Allah yang memerintahkan. Tapi ketika Allah yang memerintahkan, maka unsur “taat perintah Allah” inilah yang jadi pertimbangan utama. Sama kasusnya dengan Adam ketika makan buah yang dilarang Allah. Apakah buah itu mematikan dan beracun. Tidak juga. Tapi unsur taat perintah Allah ini yang utama.
     Jadi perintah sujud kepada Adam ini termasuk UJIAN bagi Iblis. Bukankah semakin tinggi keimanan maka semakin berat ujian. Setelah iblis begitu unggul dalam hal sujud kepada Yang Maha Besar, maka dia diuji bagaimana jika diperintah sujud dan hormat kepada Adam yang lebih rendah dari segi asal penciptaan.
     Catatan Ketiga : Jika tidak ada sikap iblis seperti ini, maka malaikat tidak akan pernah tahu bahwa Iblis bisa sombong juga meskipun sudah memiliki derajat sedemikian tinggi. Hal ini dengan sendirinya membuktikan bahwa Allah memang lebih tahu apapun yang akan terjadi dengan penciptaan manusia dimana malaikat tidak tahu dan kesombongan Iblis ini salah satu jawabannya.
     Catatan Keempat : Iblis serta merta menolak sujud kepada Adam meskipun sudah disebutkan Adam itu adalah KHALIFAH BARU DI MUKA BUMI, karena sebenarnya Iblis itu adalah MANTAN KHALIFAH DI MUKA BUMI. Sebelum Iblis punya predikat yang tinggi di langit, dia dulunya pernah gagal jadi khalifah namun kegagalan itu ditebusnya di langit sehingga kembali memiliki reputasi.
Barangkali jika mengikuti fakta ini dan kejahilan berpikir, iblis bisa saja menyatakan “Dulu ketika saya jadi khalifah di muka bumi, kenapa malaikat tidak sujud dihadapan saya? Kenapa setelah manusia yang jadi khalifah baru malaikat dan saya juga harus sujud kepada manusia?” Meski pertanyaan ini tidak terlontar saat itu oleh Iblis, kita sebagai manusia pun bisa saja berpikir demikian meski itu bagian dari kejahilan berpikir.
Kesimpulan yang bisa kita tarik terkait adanya reaksi iblis ini adalah : Setelah Iblis dikutuk beserta semua keturunannya dan diberikan ijin menganggu manusia dan keturunannya, maka siapa lagi yang bisa menggugat manusia sebagai khalifah di muka bumi? Artinya, Iblis sudah jadi makhluk terkutuk dan tidak mungkin makhluk terkutuk jadi khalifah.  Malaikat pun sudah menerima keputusan Allah. Jadi kalau niat menjadikan manusia sebagai khalifah harus batal, maka makhluk mana lagi yang pantas?
     Sampai di sini, apakah hanya dua makhluk itu yang bereaksi atas penciptaan manusia? Jawabannya TIDAK. Sebab masih ada makhluk lain yang khawatir dengan penciptaan manusia. Makhluk itu adalah BUMI.  
Dalam sebuah hadist mu’tabar yang dinukil dari Imam Ja’far al-Shadiq disebutkan sebelum menciptakan Nabi Adam, terlebih dahulu Allah mengabarkan kepada bumi bahwa Dia akan mengambil tanah di sana.
“Hai bumi, Aku akan ciptakan manusia dari saripatimu. Sebagian meraka ada yang taat kepada-Ku dan sebagian lainnya durhaka kepada-Ku. Siapa yang taat kepada-Ku maka akan Aku masukkan dia kedalam sorga-Ku, dan siapa yang durhaka kepada-Ku akan Aku masukkan dia kedalam neraka-Ku”. HR : Imam Ats-Tsa’labi.
Mendengar ini, bumi mulai cemas dan diliputi kekhawatiran. Namun tetap diutus malaikat Jibri untuk mengambil tanah di sana. Karena bumi khawatir, bumi menolaknya dan tidak memperbolehkan malaikat mengambil tanahnya. Sebagaimana diriwayatkan dari oleh As-Suddi, dari Ibnu Masud, dari seorang sahabat Rasulullah S.A.W, mereka bercerita :
"Allah S.W.T. mengutus malaikat Jibrail ke bumi untuk mengambil tanah dari bumi, namun bumi menolaknya, Bumi pun memelas dan menangis kepada Jibril, Ia bersumpah dengan nama Allah bahwa Ia tidak sanggup menanggung beban manusia di bumi.
”Demi Allah, aku berlindung kepada-Mu dari utusan-Mu, agar Engkau tidak mengambil sebagian dari kami jika nantinya akan menjadi penghuni neraka”.
Mendengar itu, Jibril tidak kuasa mengambil apapun dari bumi, lalu kembali kepada Allah dan menceritakan alasan bumi yang bersumpah dengan keagungan Allah bahwa dia tidak memiliki kesanggupan untuk menanggung azab-Nya.
Allah lantas mengutus dua malaikat sekaligus yakni Mikail dan Israfil untuk turun ke bumi mengambil tanah. Lagi-lagi, bumi melakukan hal serupa dengan bersumpah membawa nama Allah. Kedua malaikat ini pun lalu kembali lagi kepada Allah tanpa membawa sedikit tanah pun sama seperti Jibril.
Allah kemudian mengutus malaikat Izrail. Namun, malaikat ini tidak seperti dua malaikat lainnya. Karena Ia tidak mempedulikan bumi agar tidak mengambil tanahnya. Ia langsung memukul bumi dengan pedangnya dan bumi pun bergetar ketakutan, lantas malaikat Izrail mencabutnya segenggam.
Meski Bumi sudah bersumpah atas nama Allah, namun Ia tetap mengambil tanah seraya berkata :
“Aku takut menyalahi ( melanggar ) perintah Allah, aku sama sekali tak akan melanggar perintah Allahku, walau dengan segala perendahan dirimu”.
Ketika Izrail mengambil paksa ( mencabut ) sebagian dari bumi, bumipun menangis merasa kehilangan tanahnya. Namun Allah berfirman bahwa apa yang sudah diambilnya dari bumi sebenarnya akan dikembalikan ke bumi. Kemudian Allah berfirman :
 “Dari bumi ( tanah ) Kami jadikan kamu dan kepadanya Kami akan kembalikan kamu dan daripadanya Kami akan keluarkan kamu pada kali yang lain”. ( QS. Thaha : 55 )
Bagaimana dengan Adam sendiri yang mendapatkan peran dan kedudukan sebagai manusia? Disinilah inti bahasannya.
Adam tidak pernah bertanya “MENGAPA SAYA YANG MENJADI KHALIFAH?” dan pertanyaan ini lebih baik ditanyakan saat itu oleh Adam daripada “Siapa Saya?”
Adam tidak bertanya “Siapa Saya?” karena dia sudah tahu asal usulnya. Dia dalam keadaan sadar bahkan diberikan ilmu dan pengetahun tentang dunia sebagai bekal menjadi khalifah di muka bumi, tapi pertanyaan “Mengapa Saya?” jika dintanyakan saat itu, tentu pertanyaan malaikat akan terjawab saat itu juga.
“Manusia Diciptakan Lebih Sempurna Dari Makhluk Lain Sehingga Lebih Tepat Menjadi Khalifah”. Fakta ini memang masih tersembunyi saat itu. Tapi mengapa ketika malaikat bertanya, Iblis memprotes dan bumi menangis saat diciptakan manusia lalu Allah tidak menjawab karena manusia diciptakan lebih sempurna? Dan kenapa bukan itu saja yang dijawab Allah saat itu? Logikanya bisa didapat. Jika alasan kesempurnaan itu diukur dalam hal ketaatan, maka Iblis adalah makhluk yang paling taat saat itu dan malaikat pun sama karena tidak pernah berbuat dosa. Jika kesempurnaan diukur dari apa diciptakan, maka malaikat lebih baik karena dari cahaya dan Iblis dari api sementara manusia diciptakan dari tanah. Bagaimana dengan bumi? Mengapa kesempurnaan manusia tetap membuatnya harus menangis dan menolak? Bukankah manusia akan berdosa sehingga masuk neraka.
Dalam ceramah mungkin kita sudah mendengar bahwa manusia dianggap sempurna karena memiliki kehendak dan kebebasan memilih. Manusia bisa taat atau membangkang kepada Allah. Sifat ini lebih dinamis dibanding malaikat. Jika manusia bisa mengingkari Tuhan tapi memilih untuk taat, maka manusia lebih baik karena ketaatan malaikat itu sifatnya statis. Tapi bagaimana jika dibandingkan dengan Iblis? Apakah Iblis sudah diciptakan sejak awal sebagai makhluk yang membangkang? TERNYATA TIDAK. Iblis pernah taat hingga ratusan ribu tahun. Iblislah yang paling jawaranya dalam hal ketaatan waktu itu. Bahkan Allah berfirman :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” ( QS. 51 : 56 )
 Dari ayat di atas, posisi jin dan manusia sama saja. Bahkan dalam ayat lain, jin dan manusia juga sama – sama masuk neraka jika berdosa. Sebagaimana firman Allah :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk ( isi neraka Jahannam ) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ( ayat-ayat Allah ) dan mereka mempunyai mata ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk melihat ( tanda - tanda kekuasaan Allah ), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar ( ayat - ayat Allah ). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” ( QS. 7 : 179 ).
Manusia dan Jin sama – sama memiliki hati dan pendengaran. Sama – sama punya mata untuk melihat tanda kekuasaan Allah. Bahkan Iblis dan Adam itu sama – sama makhluk yang turun dari langit karena melakukan kesalahan.  
Kalau kita melihat sejarah, apakah hanya Iblis saja yang dirubah bentuk fisiknya ketika mereka membangkang kepada Allah. Ternyata TIDAK. Manusia pun sama. Ada sekelompok manusia yang dikutuk oleh Allah menjadi binatang seperti monyet. Dan sudah banyak umat – umat terdahulu bahkan dimusnahkan oleh Allah karena kelakukannya. Sementara Iblis meskipun tinggkat kesombongannya paling tinggi, dia malah diberikan usia sampai hari kiamat. Dia bahkan diberikan ijin untuk menggoda manusia. Manusia mana yang diberikan ijin oleh Allah untuk menggoda manusia lain sementara kita diperintahkan mengajak dalam kebaikan. Perhatikan Nabi Adam ketika melakukan kesalahan di dalam surga. Dia diturunkan ke dunia. Sama seperti Iblis. Dikeluarkan dari surga karena melakukan kesalahan.
Kembali soal film tadi. Seseorang yang dijadikan pahlawan, ada yang pada sepertiga durasi film barulah si pahlawan ini diberi tahu mengapa dia harus menjadi pahlawan. Sepertiga ini ada kesamaan dengan manusia. Rasulullah sudah menyatakan bahwa usia umatnya berkisar antara 62 - 63 tahun. Sepertiganya adalah 20 tahunan. Usia ini adalah  awal – awal setelah usia baligh. Dan ternyata kewajiban beragama pun harus dilakukan seseorang ketika memasuki usia baligh. Dan pada usia seperti ini kita masih dalam proses mencari jati diri. Kita harus bisa mengetahui dasar – dasar pengetahuan agama untuk digunakan di duapertiga umur yang akan datang. Dan disanalah kita akan menemukan jawaban “MENGAPA SAYA” jadi khalifah di muka bumi setelah memasuki sepertiga dari seluruh umur kita.
Kalimat bijak yang bisa kita gunakan dalam pencarian jati diri ini yang mungkin sebagain orang tidak sepaham namun bisa kita analisa kebenarannya dalam kehidupan kita adalah :
“Remaja Mencari Jati Diri Bergaul Dengan Temannya
Dewasa Mencari Jati Diri Bergaul Dengan Tuhannya”

Sudah berlaku secara umum bahwa seorang remaja pasti dipersilahkan bergaul oleh orang tuanya karena salah satu manfaatnya supaya remaja yang sedang dalam proses mencari jati diri bisa menemukan apa yang dibutuhkannya sesuai dengan umurnya. Meskipun sudah ada kesadaran bahwa jenis pergaulannya harus diwaspadai supaya tidak salah jalan bahkan tersesat.
Nyatanya dunia pergaulan anak dan remaja sekarang sudah sangat rentan. Maka jika seutuhnya menyerahkan proses pencarian jati diri ini kepada pergaulan saja, itu sama dengan orang tua lari dari tanggung jawab. Akibatnya proses pencarian jati diri ini tidak cukup dibatasi hanya pada usia remaja. Bila dikaitkan dengan film, memang tidak semua film yang menentukan sepertiga cerita baru si aktor diberikan posisi pahlawan. Bisa jadi di pertengahan atau bahkan seluruh kisahnya. Barangkali kita bisa melihat hal ini dalam film yang diangkat dari kisah nyata karena film ini jauh dari rekayasa. Jadi semua proses perjalanan kisah itu yang membuat seseorang jadi pahlawan.
Meski demikian, proses mencari jati diri ini memang lebih baik melihat kenyataan daripada membandingkannya dengan film. Tapi makna sebuah posisi dan peran sebagai pahlawan masih bisa kita lihat dari sana. Kembali mengutip apa yang dinyatakan Kakeknya Spiderman, “Semakin Besar Anugerah Yang Diterima, Semakin Besar Tanggung Jawabnya”.
     Menjadi manusia dan posisinya di muka bumi tidak lepas dari yang namanya ANUGERAH.  Jangankan diseluruh perjalanan hidup, sejak awal kita diciptakan saja, kelebihan yang diberikan kepada manusia sudah membuat malaikat tidak bisa apa – apa.
Perhatikan pecakapan malaikat dengan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 31 – 33 : “Dan Dia ( Allah ) mengajarkan kepada Adam Nama-nama ( benda - benda ) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu Allah berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!". Mereka menjawab : "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."  Allah berfirman : "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Bahkan telah diriwayatkan pula bahwa malaikat Jibril pernah menginginkan untuk menjadi manusia karena 7 perkara. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW sempat berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib RA : “Ada 7 perkara yang membuat malaikat Jibril ingin menjadi manusia : Sholat berjamaa’ah di masjid dengan imam, duduk bersama alim ulama, menjenguk orang yang sakit, mendamaikan 2 orang yang berselisih, mengantarkan jenazah hingga liang kubur, menyantuni anak yatim dan menuangkan / memberi air pada orang yang kehausan.”
Pasti malaikat Jibril paham betul dengan pahala yang bisa didapatkan dari 7 perkara ini. Ambil contoh paling terakhir yaitu memberikan minum kepada orang yang kehausan. Jangankan kepada manusia, kepada anjing saja, seorang wanita pelacur bisa masuk surga karena memberikan minum anjing ini yang tengah kehausan.
          Meski jibril paham pahala ibadah seperti itu, namun ada malaikat lain yang ternyata gagal setelah diberikan kesempatan menjadi seperti manusia. Setelah Iblis yang durhaka diusir dari surga ke bumi dan Adam diarak para Malaikat dengan upacara penuh kemewahan serta dihiasi mahkota-mahkota kemuliaan-Nya, Adam kemudian disemayamkan di kerajaan surga, maka saat itulah dalam benak HARUTH dan MARUTH begitu digelayuti                     pikiran -pikiran yang akhirnya memuara pada sebuah tanda Tanya besar seperti :
“Ya, Allah Ya Rabbi, betapa Engkau telah mengucapkan perkataan penuh rahasia…”,  yakni : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”.
“Betapa Engkau begitu memuliakan Adam, makhluk ciptaan-Mu yang hanya berasal dari tanah namun mendapat kehormatan menjadi “KHALIFAH DIMUKA BUMI”, dimanakah letak hikmah-Mu Ya, Rabb…?”
“Sedangkan bangsa Jin yang telah Engkau ciptakan dari unsur yang kuat saja ( api ), gagal menjadi khalifah dimuka bumi, apalagi manusia yang lemah dan juga suka menumpahkan darah serta berbuat kerusakan dimuka bumi”.
Beribu - ribu tahun HARUTH dan MARUTH menyimpan pertanyaan itu, namun bukannya Tuhan tak mengetahui, bukannya Tuhan tak mendengar. Hingga sampailah pada suatu zaman.
Maka pada moment berikutnya, timbulah keinginan Malaikat untuk menajdi manusia dalam rangka untuk lebih khidmat lagi mempersembahkan bakti ketaatan dan keikhlasan kepada Allah Ta’ala. Para Malaikat ingin seperti Ibrahim yang notabene hanya manusia tapi mampu mencapai derajat melebihi Malaikat.
Lalu para malaikat mengajukan permohonan kepada Rabb, Tuhan Semesta Alam :
“Ya, Allah Ya Tuhanku, perkenankan kami untuk diberi kesempatan menjadi manusia”.
Allah menjawab :
“Sungguh jika kalian menjadi manusia niscaya kalian akan melakukan sebagaimana yang mereka lakukan juga”. (Berbuat dosa dan kerusakan dimuka bumi )
Para Malaikat menjawab, “Maha Suci Engkau wahai Tuhan, takkan mungkin kami mendurhakai-Mu”.
Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui.”
Kemudian malaikat menjawab, “Kami adalah lebih patuh kepada Engkau dibanding anak keturunan Adam.”
Kepada para malaikat, Allah mengatakan : “Panggillah ke mari dua malaikat. Aku akan turunkan mereka ke bumi hingga kalian dapat melihat apa yang dilakukan kedua malaikat itu”.
Allah pun menyatakan : “Pilihlah dua diantaramu yang termulia”.
Malaikat menjawab : “Tuhanku, biarlah Haruth dan Maruth yang melakukannya”
            Dengan kebijaksanaan, Allah menjadikan Haruth dan Maruth berubah menjadi manusia dan menurunkannya ke bumi dengan dibekali hawa nafsu. Mereka turun ke bumi dengan membawa tugas, yaitu mengajarkan manusia logika ilmu sihir, yang tujuannya adalah untuk melawan ilmu-ilmu sihir setan. Sekaligus mengajarkan manusia kebaikan. Allah berfirman :
“Mereka (para setan) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya”. QS. Al - Baqarah : 102
Dan dimulailah misi mereka mengajarkan orang-orang di kerajaan Babilon beberapa logika ilmu sihir dan cara melawan ilmu sihir setan. Singkat cerita, setelah kedatangan Harut dan Marut maka terjadilah gerakan perlawanan rakyat terhadap para ahli sihir setan. Akhirnya para ahli sihir setan pun berhasil di kalahkan dan tersingkir dari Babilon. Penguasa kerajaan Babilon kemudian mengumumkan larangan keras bagi warganya untuk mempelajari ilmu-ilmu sihir.
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra ; kedua malaikat itu mengajarkan kepada manusia tentang peringatan terhadap sihir bukan mengajarkan untuk mengajak mereka melakukan sihir. (al Jami li Ahkamil Qur’an juz II hal 472.
Akhirnya, sebagai penghargaan terhadap Harut dan Marut yang telah dianggap oleh rakyat sebagai guru besar, penguasa kerajaan Babilon memberikan mereka kedudukan tinggi sebagai penasihat kerajaan sekaligus sebagai HAKIM AGUNG. Mereka hidup dalam kemewahan dengan harta yang berlimpah.
Namun demikianlah, ternyata kedudukan tinggi dan bergelimang harta itu perlahan mulai membuat hawa nafsu Harut dan Marut menjadi tak terkendali. Mereka akhirnya mabuk dalam kenikmatan duniawi dan melupakan tugas-tugas mereka sebagai manusia. Dan mulailah Haruth Maruth terlilit benang-benang petaka syetan yang tentu akan membuat nasib kehidupannya menjadi penuh dengan tragedy dan nestapa.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra : Dengan kehendak Allah, lalu datang seorang wanita yang cantik bagai bunga ( Zahrah / Azzura ). Azzura adalah puteri mahkota ketajaan,dan iapun mulai memasuki kehidupan kedua malaikat itu.
Kedua malaikat itu tertarik dengan kecantikan Azzura hingga syetan membisikkan godaan keinginan ( hasrat ) terhadapnya, namun iman kedua Malaikat yang telah menjadi manusia itu masih kuat mempertahankan.
Suatu hari Azzura berkata, “Maukah kamu mengucapkan kalimat mantera ,aku hendak mengguna-guna seseorang?”
Haruth dan Maruth menjawab, “Tidak, demi Allah, sedikit pun kami tidak mau mempersekutukan Allah untuk selama-lamanya!”
Azzura meninggalkan mereka berdua. Pada hari yang lain, Azzura kembali lagi dengan permintaan bantuan untuk menjadi pembunuh bayaran. Sambil mendekati kedua malaikat itu Azzura terus merayu dan berkata, “Bersediakah!”
Kedua malaikat itu menjawab, “Tentu saja tidak, demi Allah selamanya aku tidak akan berbuat membunuh!”
Suatu ketika Azzura mengajukan perkara ke pengadilan kerajaan, sang Raja memerintahkan Haruth Maruth berlaku sebagai hakimnya. Azzura selalu mendatangi kediaman Haruth Maruth untuk membujuk agar mereka memenangkan perkaranya. Dan dilain hari Azzura datang sambil membawa segelas arak. Setelah merayu mereka, akhirnya Azzura berkata, “Aku tidak akan mengenalmu lagi jika kalian tidak berada dipihakku”, kemudian Azzura menawarkan secawan arak kepada mereka.
Akhirnya kedua malaikat itu lalai dan tergoda oleh kemolekan Azzura kemudian karena tak ingin mengecewakan Azzura. Haruth Maruth pun tenggelam dalam mabuk dan kemudian merekapun melakukan perbuatan terlarang,mereka memperkosa Azzura. Kemudian dalam kepanikan akibat pengaruh minuman keras itu,mereka akhirnya malah semakin lepas control dan akhirnya membunuh Azzura untuk menutupi jejak dosa mereka.
Maka jatuhlah mereka ke dalam nista yang tak pernah mereka sangka-sangka.Raja sangat berang,yang akhirnya menjatuhkan hukuman mati atas Haruth dan Maruth diatas tiang gantungan,kemudian jasadnya dibuang ke laut.
Setelah mereka dibuang ke lautan, datanglah Malaikat Jibril dari langit memberitahu Haruth dan Maruth bahwa masa tugas mereka telah berakhir. Dan mereka diperintahkan kembali ke langit untuk melapor.
Betapa kagetnya Harut dan Marut, karena saat itu juga ingatan mereka sebagai malaikat telah kembali. (Diriwayatkan oleh Makhul, dari Mu’adz).
Maka datanglah dari sisi Allah malaikat Jibril kepada mereka. Pada saat Jibril datang, Harut dan Marut menangis dan Jibril ikut menangis sambil berkata,
“Sesungguhnya cobaan apakah yang membuat kalian sampai hanyut seperti ini?”
Dengan ketakutan yang dahsyat, Harut dan Marut dihantarkan kembali ke langit menghadap Allah untuk menjalani pemeriksaan dan sidang pengadilan dari Tuhannya.
Maka disaksikan seluruh malaikat, diputarlah kembali rekaman riwayat laku perbuatan Haruth dan Maruth selama menjalani kehidupan sebagai manusia, dengan status “GAGAL MENJADI MANUSIA”,yang berakhir dengan memilkul dosa besar. Saat itu juga seluruh malaikat bertasbih dan beristighfar kepada Allah. Karena mereka menyadari betapa tidak mudahnya menjadi manusia. Dan betapa masih ada manusia-manusia baik yang tidak layak diazab.
Akhirnya Allah menutup sidang itu dengan eksekusi dan menawarkan pada Harut dan Marut dua pilihan : Ingin di azab di dunia, atau ingin di azab di akhirat.
Harut dan Marut yang mengetahui betapa dahsyatnya azab akhirat tentu saja langsung memilih di azab di dunia. Dan menurut berbagai kisah, Harut dan Marut hingga kini masih tergantung ditengah samudera dengan keadaan kaki di atas dan kepala di bawah, maka semua bocoran asap karbondioksida yang ada didunia ini mengalir terhirup ke pernafasan Haruth dan Maruth.
            Dari kisah Haruth dan Maruth. Mereka nampaknya “meminta peran” menjadi manusia namun gagal total karena nafsu. Tapi nafsu manusia bukanlah sesuatu yang diciptakan sia – sia. Itulah keunikan manusia. Manusia diberikan ilmu pengetahuan, malaikat tidak bisa menandingi. Manusia diberikan nafsu, malaikat tidak bisa mengimbangi. Mengimbangi saja tidak bisa apalagi menandingi.
     Tapi semakin besar anugerah, semakin besar tanggung jawabnya. Sehingga makhluk lain tidak berani memikul amanat sebagaimana amanat yang diterima manusia. Allah berfirman :
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh” (QS. Al-Ahzab: 72)
     Apa makna kezaliman dan kebodohan dalam ayat tersebut. Apakah karena menerima amanat itu suatu bentuk kebodohan dan kezaliman? BUKAN. Letak kebodohan dan kezalimannya adalah sudah menerima amanat tapi tidak melaksanakannya dengan baik. Ibarat film, sudah menerima peran pahlawan tapi malah tidak berperan sebagai pahlawan. Kalau sudah ditetapkan menjadi khalifah dan sudah diberikan amanat, maka lakukanlah perbuatan sebagaimana khalifah dan pengemban amanat.
     Pertanyaan SIAPA SAYA adalah hal yang menyangkut apakah saya ini, siapa yang menciptakan, darimana berasal, bagaimana diciptakan, buat apa diciptakan, bagaimana cara hidup dan mengapa saya. Jawaban dari semua ini akan membentuk pemahaman yang menciptakan pola pikir dalam bertindak.
Soal MENGAPA SAYA intinya adalah sepenuhnya karena kehendak Allah. Keputusan Allah semata yang menentukan kenapa kita yang menjadi khalifah dengan semua anugerah yang menyertai kita. Dari semua uaraian di atas, setidaknya sudah memberikan gambaran bagaimana posisi penciptaan manusia menimbulkan banyak reaksi dan pengaruh terhadap makhluk lain. Ada semacam pro dan kontra serta efek – efeknya.
Jika disederhanakan dalam dunia perfilman. Jika kita sudah tahu mengapa kita yang menjadi pahlawan, maka tugas selanjutnya adalah menjadi “Aktor Yang Profesional”. Jadi kita cukup melakukan peran dengan sebaik – baiknya. Ikuti saja skenario yang direncanakan Allah sebagai “Sang Sutradara”. Nanti di akhir perjalanan hidup semuanya akan terjawab. Yang kita lakukan sekarang masih dalam proses memainkan peran. Berusaha memberikan penampilan terbaik meski dunia ini hanyalah mainan belaka.
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahuinya.”  ( QS. Al Ankabut 64 ).    
* * *