Tik . . . Tik . . . Tik
Itulah Suara Detik Jarum Jam
Cik . . . Cik . . . Cik
Itulah Gemercik Air Di Kolam
Ting . . . Ting . . . Ting
Aku Senang Bel – Bel Kecil Berdenting
Wusss . . . Wusss . . . Wusss
Aku Senang Angin Lembut Berhembus
Tapi . . .
Bagaimakah Suara Hatiku
Lagi . . .
Mestinya Aku Tak Lupa Itu
Mungkinkah Semerdu Kicauan Burung
Atau Seperti Gemuruh Letusan Gunung
Aku Coba Bediam Diri Dan Termenung
Ingin Kutangkap Suara Hati Terselubung
Tak Bisa Kugunakan Telinga Kanan Kiri
Ataupun Kuandalkan Otak Kanan Kiri
Harus Kudapati Dimanakah Suara Hati
Setelah Itu Mestinya Juga Aku Dengari
Suara Mulutku Sering Terpaksa Berdusta
Ketika Aku Pertahankan Nafsu Dan Goda
Aku Bertingkah Menahan Nilai Dan Norma
Dengan Pikiran Subyektif Semau Aku Suka
Pernahkah Jarum Jam Berdusta
Mengatakan Waktu Yang Dilaluinya
Pernahkah Gemercik Air Berbohong
Mendustai Hakikatnya Pada Kecebong
Pun Aku Harus Belajar Pada Bel Berdenting
Dia Berbunyi Karena Memang Ada Getaran
Tak Memandang Apakah Suaranya Penting
Karena Suaranya Tak Jadi Keras Lewat Pujian
Tapi Aku Berkata Walau Tak Mesti Berucap
Dan Aku Berjanji Dan Ingkar Cuma Sekejap
Aku Tak Sempat Dengar Suara Hati Terdalam
Akibatnya Nilai Minus Membuatku Tenggelam
Berjanji Tak Mesti Harus Dengan Sebuah Ikrar
Ketika Aku Merasa Diri Ini Selalu Yang Benar
Dan Ada Keteguhan Hati Yang Masih Longgar
Aku Ingkari Diri Sendiri Yang Merasa Benar
Kini Kudapat Cara Menangkap Suara Hati
Yang Telah Lama Aku Bingung Mencari
Kupelajari Ketika Orang Lain Berbuat Sepertiku
Meski Aku Menilai Dia Dengan Semua Egoku
Aku Melihat Jelas Orang Lain Itu Sudah Salah
Mereka Melayang Dengan Sayap Yang Patah
Mereka Sudah Merasa Tinggi Sampai Ke Bintang
Kulihat Jelas Kepalsuannya Dibayang Air Tenang
Kusadari Salahnya Orang Dari Tiap Tatapanku
Barangkali Begitu Orang Menilai Semua Diriku
Air Yang Tenang Juga Berkata Jujur Soal Diriku
Lihatkah Dirimu Sendiri Yang Juga Seperti Itu
Kutangkap Suara Hati Dengan Rasa Bersalah
Pahit Bagi Orang Lain Jadi Pahit Bagi Saya
Hakimi Dosa Sendiri Antara Benar Dan Salah
Itulah Saat Suara Hati Terdengar Sempurna
Akhirnya Suara Hati Lahir Bukan Dengan Kata
Dia Utuh Ketika Diwakilkan Lewat Air Mata
Sembari Dipayungi Semua Kesejukan Rasa
Dan Bersemayam Dalam Keheningan Suasana
Ternyata Suara Hatiku Telah Banyak Menangis
Kecewa Dengan Kesalahan Yang Tak Kutangkis
Padahal Suara Hatiku Sudah Menjerit Histeris
Ternyata Tuhan Punya Cara Yang Lebih Manis
JIKA KEBENARAN KALAH DIPERMULAAN, DIA PASTI AKAN MENANG DI PENGHUJUNG
By : Adji

0 komentar:
Posting Komentar